Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hari Kartini: Kisah Para Wanita Hebat di Balik Vaksin Covid-19 Merah Putih

Sejumlah peneliti wanita berada di balik riset vaksin Covid-19 Merah Putih.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 21 April 2021  |  13:30 WIB
Para peneliti wanita di balik riset vaksin produksi dalam negeri. - Bio Farma
Para peneliti wanita di balik riset vaksin produksi dalam negeri. - Bio Farma

Bisnis.com, JAKARTA – Memperingati Hari Kartini ke-142 pada masa pandemi Covid-19, wanita banyak berperan dalam pengembangan vaksin Covid-19 buatan Indonesia, yakni Vaksin Merah Putih.

Dalam dialog interaktif dengan Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional, yang berlangsung Kamis (21/4/2021), para peneliti wanita itu membagikan kisahnya.

Mereka adalah: peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ernawati Arifin Giri Rachman, Tim Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma Neni Nurainy, dan peneliti LBM Eijkman Retno Ayu Setya Utami berbagi kisahnya.

Erna menceritakan, bahwa dirinya turut  mengembakan vaksin di dalam negeri bukan baru-baru ini. Wanita lulusan ITB tersebut mulai berkecimpung di dunia vaksin dengan mengambil jurusan patologi dan mikrobiologi.

“Dari sana di lingkup kegiatan, saya banyak yang bekerja dengan masalah terkait vaksin dan imunologi. Banyak perempuan di lingkup saya yang juga sudah lebih dulu terjun ke dunia vaksin,” ungkapnya, Rabu (21/4/2021.

Sebelum terjun menggarap vaksin Covid-19, Erna mengembangkan vaksin Hepatitis B. Menurutnya, yang menjadi tantangan bagi perempuan di bidang penelitian adalah dari diri sendiri, bagaimana bisa tetap fokus pada visi dan misi, dan konsisten di tengah berbagai tantangan.

“Kalau ditanya masalah dana masalah klasik, tapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita menjaga konsistensi. Karena kerja vaksin perjalanan yang panjang. Jadi supaya tetap fokus, enggak baper dikomentarin segala sesuatu kita harus fokus pada tujuan kita,” ungkapnya.

Salah satu yang bisa menjaga konsistensinya dalam meneliti vaksin, adalah dengan melihat ‘role model’, bahwa sebelum ada Covid-19, banyak penelitian yang harus dilakukan dalam waktu yang panjang untuk sampai bisa memberi manfaat kepada masyarakat.

Dalam pengembangan Vaksin Merah Putih, Erna berperan dalam dua tim, yakni mengembangkan aksin berbasis platform adenovirus, dan vaksin subunit.

“Kami pilih itu karena platform adenovirus belum terlalu banyak yang mengembangkan di Indonesia. Kami tertantang dan Kepala Tim kebetulan sudah punya banyak pengalaman pada penelitian di virus yang lain,” kata Erna.

Dia pun merasa beruntung, karena keterlibatan perempuan di dalam mengembangkan vaksin sudah banyak, sehingga perempuan mempunyai kesempatan lebih besar untuk melakukan eksplorasi sains lebih jauh lagi.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Ernawati Arifin Giri Rachman./itb.ac.id

Bekerja 24 Jam Sehari, 7 Hari Seminggu

Selanjutnya, Neni Nurainy, Tim Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma juga berperan besar mengembangkan vaksin. Bagi dia, seorang peneliti harus rela bekerja tanpa jam kerja baku, bisa kapan saja, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Neni berkecimpung di dunia pembuatan vaksin diawali mimpinya untuk mengetahui tentang penanganan Hepatitis saat duduk di bangku SMA.

“Ini motivasi pribadi sejak saya SMA. Saya ingin terlibat dalam bagaimana orang yang punya hepatitis dirawat dan pencegahannya. Saya ingin bekerja di bidang tersebut. Pada saat saya masuk ITB dan masuk farmasi, dan itu menyambung dengan mimpi saya,” ungkapnya.

Setelah lulus kuliah, dia bekerja di PT Bio Farma. Kala itu,  vaksin Hepatitis masih harus impor.

“Jadi cita-cita kami bisa mandiri untuk produksi vaksin. Sekarang sudah uji klinis fase 3. Ini cita-cita saya yang sudah dimulai sejak SMA. Dan ini atas berkat dukungan dari teman-teman dan orangtua, kita bisa berkembang di sini,” ujarnya.

Tak hanya itu, dukungan dari lembaga tempatnya bekerja pun jadi salah satu pembakar semangat Neni bekerja tanpa lelah.

Menurutnya, dukungan di BUMN untuk mendukung karier perempuan amat besar. Menteri BUMN Erick Thohir baru-baru ini mengamanahkan untuk ke depan perusahaan BUMN bisa dipegang minimal 30 persen oleh perempuan di masing-masing bidang.

“Ini dukungan yang sungguh berarti bagi perempuan,” tambahnya.

Selama pandemi, Neni mengatakan harus rela bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu tetap aktif. Karena kerja sama pengembangan vaksinasi melibatkan banyak sekali pihak. Selain itu, saat pandemi pengembangan vaksin menjadi hal yang amat penting.

“Kecepatan pengembangan vaksin ini adalah yang utama. Kita harus kerja sama terus menerus bahkan koordinasi setiap hari. Bagaimana kita capai satu vaksin yang bisa diproduksi skalanya besar dan hasilnya bisa efisien. Ini perlu banyak pertimbangan,” ungkap Neni.

Dia juga bertanggung jawab memastikan bagaimana penelitian vaksin yang dilakukan bisa jadi satu produk yang tak hanya sekadar jadi, tapi juga bisa didistribusikan ke masyarakat luas.

Untuk mengimbangi pekerjaan sebagai peneliti vaksin, dia sering melakukan ‘me-time’ atau bersantai dengan menonton Youtube. Namun, atas kecintaannya pada pekerjaannya, yang dilihatnya pun masih terkait dengan diskusi-diskusi penelitian.

“Saya senang melihat generasi milenial yang punya wawasan luas untuk bisa berkembang di negara kita. Lihat milenial yang bisa menginsprasi ‘generasi kolonial’ itu membuat saya kembali semangat,” tukasnya.

Neni Nurainy, Tim Penelitian dan Pengembangan PT Bio Farma./Bio Farma

Muda Tak Jadi Penghalang

Peneliti dari LBM Eijkman Retno Ayu Setya Utami menjadi salah satu peneliti vaksin yang masih terbilang muda. Dia lahir tahun 1989.

Tami, sapaan akrabnya memulai karirnya sebagai asisten riset dan fokus melakukan penelitian pada variasi genetik malaria.

Usai menyelesaikan studi di Universitas Indonesia (UI), Tami bekerja di Lembaga Eijkman sebelum melanjutkan studi masternya di University of Melbourne, Australia.

“Di sini saya fokus ke imunologi dan sudah intens. Kembali dari master, fokus kerjaan saya ke arah imunologi, tapi masih terkait malaria,” ujarnya.

Pada penelitian Vaksin Merah Putih, Tami tergabung ke dalam tim yang meneliti vaksin dengan platform subunit menggunakan yeast atau ragi.

“Karena ada diskusi dengan Bio Farma yang sudah banyak pengalaman di bidang yeast, kita kembangkan pada platform yeast,” ungkapnya.

Dia menyadari, dalam pengembangan vaksin memang tidak mudah. Tekanannya amat tinggi, terutama dari masyarakat. Seluruh masyarakat Indonesia mengharapkan vaksin ini segera selesai.

“Kita tahu ini sangat penting, jadi harus melakukan yang terbaik di tengah pandemi meskipun terbatas pergerakannya. Untuk pertama kalinya kita buat vaksin ini dari nol. Karya anak bangsa, pressure cukup tinggi dan harus selesai dalam jangka pendek,” ungkap Tami.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana caranya membagi waktu. Karena sebagai peneliti, tidak bisa bekerja pukul 8 pagi sampai 5 sore seperti orang kantoran.

“Jadi siap kerja kapan saja, kadang penelitian kita di weekend tidak bisa ditunda. Itu yang harus dihadapi,” katanya. 

Peneliti dari LBM Eijkman Retno Ayu Setya Utam./LBM Eijkman

Namun, dia bersyukur, sebagai perempuan bisa mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama dari suami mengingat Tami juga memiliki dua orang balita.

“Suami izinkan saya bekerja sesuai passion saya di sains. Kalau tidak ada dukungan akan sangat sulit, apalagi saya punya anak-anak masih kecil juga. Teman-teman di lab juga, di Eijkman kebanyakan perempuan, jadi kita saling menguatkan, mendukung, ketika salah satu ada yang sakit, itu tidak menghalangi pekerjaan untuk bisa dilanjutkan karena bisa dikaver yang lain,” ujarnya.

Selain itu, dengan teknologi yang sudah makin berkembang, Tami juga bersyukur bisa berkomunikasi dengan lancar dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan vaksin, meskipun jarak jauh, bisa melalui telepon, WhatsApp, atau melalui telekonferensi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peneliti hari kartini Covid-19 vaksin Merah Putih
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top