Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Tangguhkan Penggunaan Vaksin Johnson & Johnson, Ini Alasannya

Pihak Johnson & Johnson menyatakan akan menunda peluncuran vaksin itu ke Eropa seminggu setelah pihak regulator melaporkan akan mempelajari kasus gumpalan darah langka.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 14 April 2021  |  06:20 WIB
Vaksin Johnson and johnson
Vaksin Johnson and johnson

Bisnis.com, JAKARTA - Badan kesehatan federal Amerika Serikat merekomendasikan penghentian penggunaan vaksin Covid-19 Johnson & Johnson (J&J) setidaknya selama beberapa hari setelah ditemukan kasus pembekuan darah langka pada enam wanita usia di bawah 50 tahun usai divaksinasi.

Pihak Johnson & Johnson menyatakan akan menunda peluncuran vaksin itu ke Eropa seminggu setelah pihak regulator melaporkan akan mempelajari kasus gumpalan darah langka pada empat penerima vaksin di Amerika Serikat. Afrika Selatan juga menangguhkan penggunaan vaksin J&J.

Pejabat Komisioner Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS, Janet Woodcock mengatakan badan tersebut memperkirakan penghentian sementara itu hanya untuk beberapa hari. Tujuannya, untuk memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang cara mendiagnosis dan menangani gumpalan darah.

Langkah itu dilakukan setelah regulator Eropa mengatakan awal bulan ini bahwa mereka telah menemukan kemungkinan hubungan antara vaksin Covid-19 AstraZeneca dan masalah pembekuan darah langka serupa yang menyebabkan sejumlah kecil kematian.

Pejabat FDA Peter Marks mengatakan bahwa "sangat jelas" kasus J&J "sangat mirip" dengan kasus AstraZeneca. Dia mengatakan tidak ada kasus pembekuan darah serupa yang dilaporkan di antara penerima vaksin Moderna atau Pfizer-BioNTech, yang menggunakan teknologi berbeda dan sejauh ini merupakan sebagian besar dari vaksinasi di AS.

Akan tetapi, suntikan dosis tunggal J&J dan vaksin yang lebih murah AstraZeneca dipandang sebagai senjata vital dalam memerangi pandemi yang telah merenggut lebih dari tiga juta jiwa secara global.

Namun, pakar imunologi menggarisbawahi bahwa risiko yang ditimbulkan oleh vaksin J&J tampak sangat rendah.

"Bahkan jika secara kausal dikaitkan dengan vaksin: 6 kasus dengan sekitar 7 juta dosis ... bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan," kata Amesh Adalja, pakar penyakit menular dari Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins di Baltimore seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Rabu (14/4/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat johnson&johnson Vaksin Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top