Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dor! Polisi AS Kembali Tembak Pria Kulit Hitam

Penembakan terhadap Daunte Wright pada hari Minggu lantas memicu kerusuhan di Brooklyn Center, Minnesota.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 April 2021  |  09:05 WIB
Ilustrasi - Aksi protes menyusul penembakan Jacob Blake, seorang pria kulit hitam di Kenosha City, Wisconsin, AS. - Bloomberg
Ilustrasi - Aksi protes menyusul penembakan Jacob Blake, seorang pria kulit hitam di Kenosha City, Wisconsin, AS. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus penembakan oleh polisi terhadap warga kulit hitam terjadi di Minneapolis, Amerika Serikat.

Daunte Wright, 20, menjadi korban. Ia tertembus peluru yang diledakkan dari senjata aparat.

Insiden di pinggiran kota Minneapolis itu diduga karena polisi salah mencabut penyetrum dan malah mengambil pistol, kata kepolisian pada Senin.

Penembakan terhadap Daunte Wright pada hari Minggu itu lantas memicu kerusuhan di Brooklyn Center, Minnesota.

Polisi sampai menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan pengunjuk rasa yang berdemonstrasi memprotes serangkaian pembunuhan polisi AS terhadap orang kulit hitam.

Pada Senin, Gubernur Minnesota Tim Walz menetapkan jam malam untuk negara-negara yang termasuk Minneapolis dan St. Paul. Jam malam berlaku mulai jam 7 malam hingga pukul 6 pagi Central Daylight Time (CDT) pada Selasa, demikian dikutip Tempo.co dari Reuters, Selasa (13/4/2021).

Penembakan Daunte mengingatkan kembali pada kematian George Floyd oleh polisi, yang juga terjadi di Minnesota.

Kepala Polisi Pusat Brooklyn Tim Gannon mengatakan dalam jumpa pers, Senin, penembakan terjadi ketika polisi melakukan razia lalu lintas rutin. Disebutkan bahwa korban mengendarai kendaraan dengan nomor polisi yang sudah kedaluwarsa.

Ketika memeriksa Wright, polisi menemukan surat perintah penangkapan.

Rekaman video polisi yang ditampilkan pada konferensi pers menunjukkan seorang petugas mencoba memborgol Wright di sebelah mobil, sebelum dia melepaskan diri dan kembali ke dalam mobil.

Pada saat itu, petugas kedua berteriak untuk menyetrum Wright, "Taser, Taser, Taser," tetapi polisi malah melepaskan satu tembakan dari pistolnya, menurut rekaman.

"Sialan, saya baru saja menembaknya," teriak polisi perempuan itu saat mobil meluncur menjauh.

Gannon menyebut insiden itu bukan kesengajaan.

"Ini tampak bagi saya, dari apa yang saya lihat dan reaksi serta kegelisahan para petugas segera setelah itu, bahwa ini insiden tidak disengaja yang mengakibatkan kematian tragis Tuan Wright," kata Gannon, menambahkan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal.

Wali Kota Brooklyn Center Mike Elliott mengatakan penembakan itu terjadi pada momen yang sangat buruk. Pernyataan Elliott merujuk pada persidangan Derek Chauvin, yang berlutut di leher Floyd selama lebih dari sembilan menit, memasuki hari ke-11 pada hari Senin.

Wali kota meminta petugas, yang belum diidentifikasi, untuk dipecat, tulis Reuters.

Kematian Floyd memicu protes global tahun lalu, mendorong seruan untuk reformasi polisi dan diakhirinya diskriminasi rasial.

Pembunuhan di Brooklyn Center, seperti beberapa penembakan terkenal baru-baru ini, termasuk kematian Philando Castile tahun 2016 di St.Paul, Minnesota, sering kali terjadi dalam penyetopan kendaraan oleh polisi terhadap pengemudi kulit hitam.

Banyak aktivis, kelompok hak-hak sipil, dan pemimpin politik, mengatakan razia lalu lintas yang menargetkan pengendara kulit hitam dan taktik yang digunakan sebagai bentuk pelecehan komunitas kulit berwarna.

Terri Nelson, direktur hukum American Civil Liberties Union of Minnesota, menunjuk laporan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Publik Hennepin County.

Lembaga tersebut menemukan bahwa 54 persen pengemudi yang berhenti karena pelanggaran peralatan kecil antara Januari dan September pada 2018 di Minneapolis adalah warga berkulit hitam. Hal itu berbeda jauh dengan 19 persen dari populasi kota.

Ibu Wright, Katie Wright, mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa dia telah menerima telepon dari putranya.

Saat itu Wright mengatakan bahwa polisi telah menghentikannya karena penyegar udara menggantung dari kaca spion, yang dianggap ilegal di Minnesota.

Dari balik telepon dia bisa mendengar polisi menyuruh putranya keluar dari kendaraan, katanya.

Kepala polisi mengatakan "benda yang digantung dari kaca spion" ditemukan ketika polisi menepikan Wright.

Ayah Wright, Aubrey, mengatakan kepada Washington Post bahwa putranya sedang dalam perjalanan untuk mencuci mobilnya sebelum dihentikan polisi.

Dia mengatakan Daunte putus sekolah beberapa tahun sebelumnya karena disabilitas belajar dan telah melakukan berbagai pekerjaan untuk membantu menafkahi putranya yang berusia 2 tahun.

Ben Crump, seorang pengacara hak sipil yang membantu memenangkan penyelesaian denda US$27 juta (Rp 394 miliar) untuk keluarga George Floyd dengan kota Minneapolis, mengatakan dia juga mewakili kasus Wrights.

"Daunte Wright adalah satu lagi pemuda kulit hitam yang terbunuh di tangan mereka yang telah bersumpah untuk melindungi dan melayani kita semua - bukan hanya yang paling putih di antara kita," kata Crump dalam sebuah pernyataan.

"Karena Minneapolis dan negara bagian lainnya terus menangani pembunuhan tragis George Floyd, sekarang kita juga harus berduka atas kehilangan pemuda dan ayah ini," lanjutnya.

Presiden Joe Biden mendesak penyelidikan penuh atas penembakan pria kulit hitam oleh polisi. Ia juga meminta para pengunjuk rasa di Minnesota untuk tenang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat penembakan George Floyd

Sumber : Tempo.co

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top