Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Brasil Krisis: Presiden Pecat Menhan, Tiga Kastaf Pilih Mundur

Permintaan mundur itu mereka sampaikan dalam satu pertemuan dengan Presiden yang berlangsung dramatis dan panas.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  07:15 WIB
Presiden Brasil Jair Bolsonaro menghadiri upacara penghibaran bendera di luar Istana Alvodara di Brasilia, Brasil. (18/7/2020). - Bloomberg/Andre Borges
Presiden Brasil Jair Bolsonaro menghadiri upacara penghibaran bendera di luar Istana Alvodara di Brasilia, Brasil. (18/7/2020). - Bloomberg/Andre Borges

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintahan Brasil dilanda krisis akibat pemecatan mendadak menteri pertahanan oleh Presiden Jair Bolsonaro.

Pemecatan itu nyatanya disusul oleh pengunduran diri tiga kepala staf angkatan bersenjata negara tersebut.

Tiga kepala staf angkatan bersenjata masing-masing Jenderal Edson Leal Pujol (darat), Laksamana Ilques Barbosa (laut) dan Brigjen Antônio Carlos Bermudez (udara) telah mengajukan pengunduran diri.

Permintaan mundur itu mereka sampaikan dalam satu pertemuan dengan Presiden yang berlangsung dramatis dan panas.

Selasa sore waktu setempat, kementerian pertahanan mengonfirmasi ketiganya akan diganti.

Krisis politik itu terjadi saat Brasil bergulat melawan virus Corona  yang merupakan wabah terburuk di dunia.

Surat kabar Folha de São Paulo menulis bahwa belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Brasil kepala ketiga cabang militer mengundurkan diri karena perselisihan dengan seorang presiden.

Pergolakan bersejarah, yang membuat banyak warga Brasil gelisah, terjadi setelah presiden dari sayap kanan Brasil itu memecat Menteri Pertahanan Jenderal Fernando Azevedo e Silva pada Senin.

Media lokal memberitakannya sebagai pertemuan tiga menit yang dingin di antara keduanya.

“Saya membutuhkan kinerja Anda,” kata Bolsonaro kepada sang jenderal, yang tak lain teman lamanya, ujar surat kabar Estado de São Paulo.

Eliane Cantanhêde, seorang jurnalis terkemuka untuk koran di ibu kota Brasília, mengatakan Azevedo e Silva meninggalkan pemerintahan setelah menjelaskan keinginannya kepada presiden.

Dia menegaskan bahwa angkatan bersenjata setia kepada konstitusi, bukan pada kekuatan pribadi Bolsonaro, demikian dikutip TheGuardian.com, Rabu (31/3/2021).

Bolsonaro dilaporkan menuntut pemecatan Jenderal Pujol. Sang jenderal tampaknya membuat presiden khawatir setelah secara terbuka menolak politisasi militer Brasil dan mendorong pembatasan yang lebih keras akibat wabah Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 314.000 warga Brasil.

"Keluarnya Jenderal Fernando menunjukkan kepada kita bahwa ada sayap angkatan bersenjata yang signifikan di tubuh angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara yang tidak menerima otoritarianisme, kudeta, dan pelanggaran konstitusi," ujar Cantanhêde.

Bolsonaro ingin semua orang menjadi bawahannya dan melakukan apa pun yang dia perintahkan. Namun, ujarnya, banyak orang di dalam angkatan bersenjata menolak hal itu.

"Ini sangat penting karena ini menunjukkan adanya perlawanan di angkatan bersenjata terhadap segala jenis proyek kudeta dan proyek otoriter Bolsonaro," kata Cantanhêde.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

brasil Jair Bolsonaro

Sumber : TheGuardian.com

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top