Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Abaikan Teori Kebocoran Lab Wuhan, AS Kini Dukung Penelitian WHO

AS sebelumnya di bawah pemerintahan Donald Trump menilai penularan Covid-19 di dunia diakibatkan oleh kesalahan yang terjadi di laboratorium Wuhan.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 10 Februari 2021  |  10:55 WIB
Sampel swab yang akan diuji untuk virus corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China, Sabtu (14/3/2020). - Bloomberg
Sampel swab yang akan diuji untuk virus corona di sebuah rumah sakit di Wuhan, China, Sabtu (14/3/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat kini cenderung menjauhkan diri dari teori propaganda terkait dengan asal usul Covid-19 dan justru mendukung penelitian tim WHO ke Wuhan, China.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price dalam konferensi pers pada Selasa (9/2/2021) mengatakan bahwa AS hanya akan memberi kesimpulan berdasarkan data hasil investigasi WHO.

"Daripada terburu-buru membuat kesimpulan yang tidak berdasarkan sains, kami ingin melihat ke mana data itu membawa kami, ke mana sains itu menuntun kami, dan kesimpulan kami akan didasarkan pada hal itu," katanya seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (10/2/2021).

WHO telah menerjunkan timnya ke Wuhan, lokasi pertama yang dipercaya terjadinya penyebaran Covid-19, untuk melakukan investigasi asal usul virus corona.

Tim WHO mengatakan bahwa mereka gagal menemukan sumber virus, tetapi meyakini penyebaran melalui laboratorium sangat tidak mungkin. "Kami jelas mendukung investigasi tersebut,” kata Price.

Sikap tersebut berbeda dengan tudingan Donald Trump, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo yang menyatakan bahwa penularan Covid-19 di dunia diakibatkan oleh kesalahan yang terjadi di laboratorium Wuhan.

Dalam temuan yang dirilis lima hari sebelum Presiden Joe Biden dilantik, Pompeo mengatakan bahwa beberapa peneliti di Institut Virologi Wuhan jatuh sakit dengan gejala mirip Covid-19 sebelum wabah menjangkit dunia.

Menimpali hal ini, Price mengatakan temuan tersebut tidak berdasar dan tidak berkaitan antara satu teori dengan lainnya.

Kendati demikian, AS tetap menyampaikan kritik kepada China yang kurang transparan dalam memberikan informasi mengenai virus.

"Saya pikir dengan jelas orang China, setidaknya sampai saat ini, tidak menawarkan transparansi yang kami dan komunitas internasional butuhkan sehingga kami dapat mencegah pandemi semacam ini terjadi lagi," kata Price.

Dikutip dari South China Morning Post, Ketua misi WHO Peter Ben Embarek menyampaikan temuannya selama 4 pekan di Wuhan bahwa penyebaran melalui spesies inang perantara dan masih membutuhkan lebih banyak penelitian.

Dia juga menekankan bahwa kemungkinan tersebut lebih besar ketimbang teori yang mengatakan bahwa virus langsung berpindah dari kelelawar ke orang-orang di Wuhan.

“Hipotesis mengenai laboratorium, sangat tidak mungkin untuk menjelaskan menyebarnya virus ke populasi manusia,” kata Emberek.

Dia juga mengungkapkan adanya kemungkinan virus menyebar melalui makanan beku, tetapi masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Intinya, Emberek dan tim tidak menemukan bukti kuat di Wuhan yang mengaitkan kasus Covid-19 sebelum Desember 2019. Temuan itu dicapai melalui penilaian dari sejumlah studi retrospektif tentang kematian dan data surveilans penyakit untuk mengidentifikasi tren yang tidak biasa.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat who Wuhan Covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top