Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rugikan Negara Puluhan Triliun, Korupsi Asabri Jadi Skandal Terbesar Abad Ini?

Ekspose kasus korupsi PT Asabri (Persero) diharapkan bisa dilakukan secara transparan.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 26 Januari 2021  |  14:36 WIB
Aktifitas layanan nasabah di kantor PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri di Jakarta, Kamis (16/1/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Aktifitas layanan nasabah di kantor PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri di Jakarta, Kamis (16/1/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR, Benny K Harman, meminta ekspose kasus korupsi PT Asabri (Persero) dilakukan secara transparan.

Benny menilai transparansi perlu dilakukan karena kasus tersebut telah merugikan negara puluhan triliun dan menjadi skandal korupsi terbesar pada abad ini.

"Ini perlu dijelaskan di depan Komisi III DPR, ini skandal paling besar di abad ini," kata Benny, Selasa (26/1/2021).

Adapun Jaksa Agung ST Burhanuddin memaparkan bahwa kerugian negara akibat korupsi Asabri memang lebih besar dibandingkan korupsi Jiwasraya. Jika melihat potensi kerugian negara menurut audit dari BPK, nilainya lebih dari Rp22 triliun.

Burhanuddin memaparkan bahwa sejauh ini ada 7 calon tersangka yang akan ditetapkan. Namun, jumlah itu kemungkinan bisa bertambah, karena perkara itu masih terus didalami.

"Kami akan terus mendalami kasus itu meskipun ini berat, tetapi kasus ini lebih besar dari skandal Jiwasraya," jelasnya.

Laporan BPK menunjukkan bahwa potensi kerugian Asabri lantaran mengalihkan investasinya dari deposito, baik ke penempatan saham secara langsung maupun ke reksa dana, sejak 2013 mencapai Rp16 triliun.

Pada 2017, penempatan dana Asabri di portofolio saham mencapai Rp5,34 triliun dan reksa dana Rp3,35 triliun. Sedangkan investasi deposito tersisa Rp2,02 triliun.

Asabri juga diduga membeli saham gorengan dengan nilai Rp802 miliar. Akibatnya, pada 2018 dan 2019, Asabri mencatatkan potensi kerugian yang cukup dalam.

Sebelum hal itu terjadi, pada 31 Oktober 2017, Heru Hidayat, salah satu terdakwa kasus Jiwasraya, menemui Direktur Utama Asabari saat itu, Letnan Jenderal (Purnawirawan) Sonny Widjaja. Ia menawarkan solusi atas investasi bermasalah.

Heru bahkan mengklaim telah membereskan masalah yang serupa di Jiwasraya. Padahal investasi Jiwasraya di tangan Heru, justru mengalami penurunan nilai cukup besar dan tidak likuid.

Sedangkan, dugaan keterlibatan Benny Tjokrosaputro adalah dia yang membujuk Direksi Asabari agar menempatkan dana asuransi yang dihimpun para prajurit di saham-saham perusahaannya hingga Rp 3,5 triliun sejak 2012.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr asabri benny k harman
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top