Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelantikan Biden Terancam, Pimpinan Militer AS Ingatkan Pasukan untuk Setia

Investigasi terhadap pelaku serangan ke Capitol belum pernah terjadi sebelumnya, menurut Departemen Kehakiman.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  07:04 WIB
Para pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung U.S. Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021)./Antara - Reuters/Stephanie Keith
Para pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkumpul di depan Gedung U.S. Capitol di Washington, Amerika Serikat, Rabu (6/1/2021)./Antara - Reuters/Stephanie Keith

Bisnis.com, JAKARTA - Jenderal paling senior di Amerika Serilat (AS) Mark Milley dan seluruh kepala staf gabungan yang terdiri dari kepala masing-masing cabang militer mengeluarkan pernyataan keras mengutuk invasi kekerasan di gedung parlemen (Capitol) AS pada pekan lalu, dan mengingatkan seluruh angkatan bersenjata soal kewajiban membela Konstitusi dan menolak tindakan ekstremisme.

"Kami menyaksikan tindakan di dalam Gedung Capitol yang tidak sesuai dengan aturan hukum. Hak kebebasan berbicara dan berkumpul tidak memberi siapa pun hak untuk menggunakan kekerasan, hasutan dan pemberontakan," tulis mereka dalam pernyataan seperti dikutip CNN.com, Rabu (13/1/2021).

Pernyataan tersebut dianggap sebagai langkah yang signifikan untuk menghindaari kemungkinan para pimpinan militer mengambil sikap yang mungkin bernuansa politik. Akan tetapi, mengingat apa yang telah terjadi, para pimpinan perlu membuat pernyataan mengingat tingginya potensi ancaman saat pelantikan presiden.

Investigasi terhadap pelaku serangan ke Capitol belum pernah terjadi sebelumnya, menurut Departemen Kehakiman.

“Sebagai anggota dinas militer, kita harus mewujudkan perwujudan nilai-nilai dan cita-cita bangsa. Kita mendukung dan membela UUD. Setiap tindakan yang mengganggu proses Konstitusi tidak hanya bertentangan dengan tradisi, nilai, dan sumpah kita; itu melanggar hukum," menurut pernyataan itu.

Selain itu, pernyataan tersebut merujuk pada pengesahan hasil pemilihan presiden oleh Kongres dan mengatakan, "Presiden terpilih Biden akan dilantik dan akan menjadi Panglima Tertinggi kami yang ke-46."

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump membantah telah menyampaikan pidato yang membuat pendukungnya melakukan kekerasan di Gedung Capitol Hill. Sebelumnya, Trump berpidato pada 5 Januari, kemudian pendukungnya menyerbu  Capitol pada 6 Januari.

Trump mengatakan tidak merasa telah mendorong para pendukung untuk berbuat kekerasan.

"Mereka telah memahami pidato saya, kata-kata saya, kalimat terakhir saya," kata Trump.     

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Donald Trump Joe Biden
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top