Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pesawat Jatuh, Boeing dan Sriwijaya Air Dilaporkan ke Bareskrim

Aparat penegak hukum tidak pernah memproses hukum maupun menetapkan tersangka setiap kali ada insiden pesawat jatuh yang membuat puluhan orang meninggal dunia.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 11 Januari 2021  |  12:39 WIB
Prajurit Kopaska TNI AL berdiri di dekat kantong berisi jenazah dan serpihan dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang dievakuasi ke atas KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1/2021)./Antara - Sigid Kurniawan
Prajurit Kopaska TNI AL berdiri di dekat kantong berisi jenazah dan serpihan dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang dievakuasi ke atas KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1/2021)./Antara - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pihak Boeing dan maskapai penerbangan Sriwijaya Air dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait perkara dugaan tindak pidana kealpaan atau Pasal 359 KUHP.

Pihak pelapor Boyamin Saiman mengemukakan alasan pihaknya melaporkan Boeing dan maskapai Sriwijaya Air karena aparat penegak hukum tidak pernah memproses hukum maupun menetapkan tersangka setiap kali ada insiden pesawat jatuh yang membuat puluhan orang meninggal dunia.

Padahal, kata Boyamin, jika terjadi kecelakaan bis saja, Polisi bisa langsung bergerak menetapkan tersangka. Namun, ketika terjadi insiden pesawat jatuh, tidak ada satu orang pun yang ditetapkan tersangka.

"Saya dan keluarga juga pengguna Sriwijaya Air dan Boeing. Tentu saja saya harus melaporkan insiden ini ke Bareskrim Polri agar jera dan tidak sembarangan lagi dalam beroperasi," tuturnya, Senin (11/1/2021).

Boyamin berharap melalui pelaporannya tersebut, seluruh maskapai dapat lebih berhati-hati dalam mengoperasikan pesawat dan tidak hanya kejar keuntungan dari para penumpang, sehingga para penumpang bisa menggunakan moda transportasi pesawat dengan aman dan nyaman.

"Jadi siapapun yang lalai hingga menyebabkan orang lain meninggal dunia, itu harus ada pihak tersangkanya. Tersangka bisa dijerat Pasal 359 KUHP terkait kasus kecelakaan ini," katanya.

Seperti diketahui, pesawat Sriwijaya Air SJ182 tujuan Jakarta-Pontianak jatuh di perairan Laut Jawa dilaporkan hilang kontak hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan kronologi hilang kontak antara pesawat dengan pemandu lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) setelah lepas landas pada pukul 14:36 WIB.

"Pilot kemudian minta izin kepada ATC untuk menaikkan ketinggian. Pada 14:37 WIB diizinkan naik ke ketinggian 29.000 kaki dengan mengikuti standar instrumen departure," ungkapnya dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring, Sabtu (9/1).

 Beberapa saat kemudian, pada pukul 14:40 WIB pesawat terlihat terbang menjauh dari rute, ke arah barat daya, sehingga ATC mencoba untuk menghubungi pilot untuk kembali ke koordinat.

Naas, pesawat Boeing 737-500 tidak lama kemudian hilang dari radar.

Pencarian terus berlangsung di lokasi tempat ditemukannya puing yang diduga merupakan bagian dari pesawat SJ182, yakni di sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Budi juga menyampaikan arahan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk memaksimalkan proses pencarian dengan mengerahkan tenaga Basarnas, KNKT, serta TNI Angkatan Laut dan menyiapkan sejumlah perahu karet, sea rider dan kapal khusus Baruna Jaya yang dilengkapi peralatan underwater recovery.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sriwijaya Air boeing bareskrim
Editor : Edi Suwiknyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top