Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Trump Rombak Jajaran Pertahanan AS, Masukkan Para Loyalis

Perombakan diumumkan sekitar 24 jam setelah pernyataan Trump memecat sejumlah pejabat pertahanan, termasuk Menteri Pertahanan Mark Esper.
Presiden AS Donald Trump/Antara-Reuters
Presiden AS Donald Trump/Antara-Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Donald Trump merombak jajaran Kementerian Pertahanan AS dengan para loyalis yang kontroversial di akhir masa kepemimpinannya.

Dilansir dari CNN International, perombakan ini diumumkan sekitar 24 jam setelah pernyataan Trump memecat sejumlah pejabat pertahanan, termasuk Menteri Pertahanan Mark Esper.

Mereka digantikan oleh loyalis Presiden Trump, termasuk orang kontroversial yang menciptakan teori konspirasi dan menyebut mantan Presiden Barack Obama teroris.

Seorang sumber tepercaya mengungkapkan Gedung Putih akan menggantikan Esper dengan Direktur Pusat Konter Terorisme Nasional.

Sumber tersebut mengatakan langkah ini dilakukan karena Esper dan timnya berupaya menarik pasukan di Afghanistan sebelum memenuhi persyaratan dan juga masalah keamanan lainnya.

"Ini mengerikan, ini mengganggu sekali. Ini adalah tindakan diktator," kata sumber tersebut.

Selain Esper, CBS melaporkan Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan James Anderson, Wakil Menteri Pertahanan untuk Intelijen Joseph Kernan, dan Kepala Staf Jen Stewart telah mengundurkan diri.

Stewart akan digantikan oleh Kash Patel, mantan pembantu untuk perwakilan Republik Devin Nunes yang kontroversial.

Sementara itu, Anthony Tata akan menggantikan Anderson menjadi Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan. Dirinya sempat dicalonkan menduduki posisi tersebut sebelumnya, tetapi gagal karena Komite Senat Angkatan Bersenjata melihat adanya tweet konspirasi yang dilakukan Tata.

Dalam investigasi CNN, Tata tercatat membuat deretan komentar yang menyerang dan berbau islamophobia. Dalam tweet-nya pada 2018 Tata menyebut Obama adalah pemimpin teroris yang membahayakan AS dalam sejarah Presiden AS.

Perombakan jabatan ini memperlihatkan bahwa Trump tidak mengakui kemenangan Joe Biden, rivalnya dari Demokrat, sebagai presiden AS terpilih.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nindya Aldila
Editor : Saeno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper