Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Terbang di Masa Pandemi, Aman Gak Ya?

International Air Transport Association (IATA) mencatat sepanjang tahun sampai 8 Oktober ada 44 orang yang dicurigai tertular virus Corona. Dengan total ada 1,2 miliar penumpang melakukan perjalanan dalam periode itu, IATA menyebut kemungkinan risikonya tampak "sangat rendah".
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  14:37 WIB
Implementasi physical distancing yang dilakukan Lion Air Group terhadap penumpang pesawat. - Dok. Istimewa
Implementasi physical distancing yang dilakukan Lion Air Group terhadap penumpang pesawat. - Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Banyak orang masih mempertanyakan seberapa aman untuk melakukan perjalanan udara di masa pandemi, ketika harus berjam-jam bersama orang-orang di satu tempat tertutup, apalagi di masa libur panjang. Ternyata, melakukan perjalanan udara risikonya tak main-main.

Maskapai penerbangan sudah terbebani amat berat selama masa pandemi, ketika seluruh negara menutup perbatasan dan bahkan melarang perjalanan udara karena angka penularan virus Corona yang terus meningkat.

Sampai saat ini, tanda-tanda untuk bisa rebound bagi para maskapai masih belum ada. Walaupun sudah ada beberapa negara yang membuka perbatasan dan memperbolehkan penerbangan, tapi masih banyak pula orang-orang yang khawatir akan kemanan terbang menggunakan pesawat bersama orang lain di satu tempat tertutup selama beberapa jam.

Mengutip Bloomberg, Jumat (30/10/2020), International Air Transport Association (IATA) mencatat sepanjang tahun sampai 8 Oktober ada 44 orang yang dicurigai tertular virus Corona. Dengan total ada 1,2 miliar penumpang melakukan perjalanan dalam periode itu, IATA menyebut kemungkinan risikonya tampak "sangat rendah".

Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa hitungannya tidak komprehensif, dan sejumlah peneliti memperingatkan bahwa penghitungan kasus seperti yang dilakukan IATA mencerminkan kesulitan menetapkan penyebaran virus di pesawat.

Lalu mengapa sulit untuk mendapat data yang tepat dan benar? Untuk mengetahui apakah penumpang terinfeksi, penumpang harus diwawancarai satu persatu dan diuji, yang mana jumlahnya bisa ratusan sampai ribuan orang per hari.

Kemudian, idealnya petugas pemeriksaan harus menganalisa lebih lanjut genom virus dari tambahan kasus yang muncul untuk memeriksa apakah ada koneksi dari penumpang yang pertama terinfeksi.

Di AS saja, para pejabat kesehatannya mengetahui ada 1.600 penerbangan dalam delapan bulan belakangan dan ada kemungkinan membawa seseorang yang terkena virus. Mereka menghitung 10.900 orang yang mungkin berada dalam jarak dekat dengan mereka yang tertular, tetapi mereka tidak memiliki informasi kontak lengkap dari mereka semua.

Lalu kenapa penerbangan berisiko tinggi? Alasannya, seperti transportasi umum lainnya, risiko penularan virus berasal dari jarak yang dekat antara satu orang dengan yang lain dan juga banyaknya permukaan yang disentuh oleh banyak orang.

Mereka yang terinfeksi virus Corona, mengeluarkan droplet yang mengandung virus dari hidung dan mulut mereka yang dapat ditransfer langsung ke seseorang di dekatnya atau diambil dari permukaan yang terkontaminasi dan disalurkan ke mulut, hidung atau mata.

Studi lain menemukan bahwa risiko terbesar dalam penerbangan adalah ketika duduk dalam dua baris bersama orang yang tertular selama lebih dari delapan jam.

Penularan juga berisiko terjadi di bandara saat para pelancong menunggu dalam antrean, melakukan check-in penerbangan, mengunjungi penjual makanan, dan menggunakan kamar mandi.

Selain itu, virus Corona juga bisa bertransmisi dalam bentuk aerosol, yaitu partikel yang lebih kecil lagi dibandingkan dengan droplet. Aerosol bisa beterbangan dan beredar di udara dan berpotensi terhirup.

Industri penerbangan mengatakan bahwa ventilasi di pesawat modern harusnya sudah bisa memitigasi risiko penyebaran virus ini. Pasalnya, udara di pesawat modern umumnya sudah merupakan campuran 50-50 udara luar yang steril dan udara kabin resirkulasi yang telah terfilter.

Seperti pesawat-pesawat dari Airbus SE dan Boeing Co. misalnya, sudah melengkapi pesawatnya dengan filter HEPA sejak 1980-an, filter itu bisa menyaring partikel terkecil seperti virus. Namun, tentunya fasilitas filtrasi seperti itu taka kan ditemui di semua pesawat.

Untuk mengurangi risiko penularan, para pelancong bisa mengenakan masker sepanjang perjalanan. IATA menyebutkan bahwa kebanyakan kasus penularan Covid terjadi sebelum perjalanan dilakukan. Namun, dalam banyak kasus, penularan di dalam pesawat mungkin terjadi lantaran tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan memakai masker yang sudah terinfeksi.

Seperti yang terjadi pada seorang pria dalam penerbangan dari Singapura ke China pada 21 Januari 2020 lalu, yang melepaskan masker saat mengobrol dengan istri dan putranya, yang akhirnya terinfeksi kemungkinan oleh sesama penerbang.

Selain pakai masker, maskapai penerbangan juga harus membersihkan pesawat secara menyeluruh dan rutin, gunakan teknologi pembayaran nontunai, dan gunakan fasilitas check-in dan bagasi daring.

Sejumlah maskapai juga sudah tak lagi menyediakan makanan di atas pesawat, dan para penumpang diimbau untuk tidak mengantre di toilet. Kemudian, maskapai penerbangan juga harus memastikan setiap penumpang berjarak dan mematasi jumlah bawaan penumpang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat terbang Virus Corona Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top