Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Batalkan Pembelian Vaksin AstraZeneca? Ini Tanggapan KPC-PEN

Kabar pembatalan pembelian itu muncul setelah uji klinis vaksin dari perusahaan tersebut disebut-sebut menemui kegagalan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 Oktober 2020  |  15:23 WIB
Logo AstraZeneca Plc terpampang di gedung perusahaan farmasi itu di Cambridge, Inggris, Senin (8/6/2020). - Bloomberg/Jason Alden
Logo AstraZeneca Plc terpampang di gedung perusahaan farmasi itu di Cambridge, Inggris, Senin (8/6/2020). - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Tersiar sejumlah kabar bahwa Indonesia bakal membatalkan pembelian vaksin dari produsen asal Inggris, AstraZeneca.

Kabar pembatalan pembelian itu muncul setelah uji klinis vaksin dari perusahaan tersebut disebut-sebut menemui kegagalan.

Menanggapi hal itu, Ketua Komite PC-PEN Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kabar itu tidak sepenuhnya benar.

“Karena belum diputuskan dan AstraZeneca jadi salah satu kandidat yang penelitiannya di resume di negara lain, dan ini salah satu yang harganya mendekati harga publik dan bisa meyakinkan volumenya besar,” kata Airlangga pada konferensi pers, Selasa (27/10/2020).

Namun, ujar Airlangga, yang menjadi kendala adalah ketersediaannya yang tidak bisa dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, terhadap vaksin-vaksin seperti dari Astraeneca, Novavax, dan lainnya akan tetap dikaji dan dilihat apakah sesuai dengan kebutuhan di Indonesia dan dilihat kerja samanya ke depan.

“Selain itu, dilihat juga apakah vaksin ini bisa seperti vaksin merah putih, bisa diproduksi di dalam negeri. Orientasi kita kerja sama internasional. Semua dikerjasamakan, tentu ada skalabilitasnya yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas pabrik yang ada dan menurut Menristek kapasitas kita cukup luas,” kata Airlangga.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Riset dan Teknologi Bambang P. Brodjonegoro mengatakan bahwa strategi pemerintah tidak akan berhenti di vaksin Covid-19.

“Karena secara kesehatan masyarakat, Indonesia dengan penduduk sedemikian besar sudah harus mengarah pada kesehatan preventif. Mencegah seseorang kena penyakit, salah satunya dengan vaksin,” ungkapnya.

Dengan momentum Covid-19, produsen vaksin dan obat-obatan dalam negeri juga jadi bisa dipacu lebih cepat. Misalnya, melihat Bio Farma yang sudah meningkatkan kapasitas dari 100 juta per tahun 2020 menjadi 250 juta per tahun untuk 2021.

“Kami juga sudah menggandeng tiga perusahaan yang sudah siap untuk investasi untuk pengembangan vaksin manusia, dan mereka sudah mulai mengurus izin ke BPOM untuk GMP [good manufacturing practice], dari 3 perusahaan tersebut kami hitung kapasitas produksi yang mereka sanggup untuk investasi, setidaknya bisa mencapai 1 miliar dosis per tahun,” ungkap Bambang.

Bambang melanjutkan, Indonesia harusnya bisa menjadi salah satu produsen vaksin utama global.

Namun, sekarang memang harus fokus terlebih dahulu pada Covid-19, dengan memastikan vaksin merah putih bisa 100 persen diproduksi dalam negeri dan menyediakan kebutuhan vaksin tidak hanya tahun ini tapi tahun-tahun berikutnya.

“Ini untuk antisipasi karena ada kemungkinan daya tahan tubuh yang ditimbulkan dari vaksin Covid-19 ini tidak akan seumur hidup seperti vaksin polio,” ujar Bambang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

airlangga hartarto Vaksin Covid-19 AstraZeneca
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top