Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lulusan Perguruan Tinggi Dituntut Berkompetensi di Bursa Kerja

Sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi (PT) dituntut memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia saat memasuki dunia kerja sehingga bisa mendorong tercapainya Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  19:43 WIB
Profesor Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa. Foto: Istimewa
Profesor Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa. Foto: Istimewa

Bisnis.com, MALANG - Sarjana-sarjana dan lulusan perguruan tinggi (PT) dituntut memiliki kompetensi yang kuat, memiliki jiwa profesionalisme yang unggul, sekaligus memiliki akhlak yang mulia saat memasuki dunia kerja sehingga bisa mendorong tercapainya Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas.

Nizam, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menegaskan hal itu saat memberi orasi ilmiah secara daring pada Wisuda Ke-97 Periode III Tahun 2020 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (22/10/2020).

“Kalau kita melihat angkatan kerja di Indonesia saat ini sebagian besar lebih dari 50 persen baru tamatan SD dan SMP, sementara yang tamatan pendidikan tinggi masih di bawah 10 persen,” lanjut guru besar teknik sipil Universitas Gadjah Mada itu.

Hal itu merupakan satu tantangan yang besar bagi bangsa. Karena itulah, para sarjana merupakan bagian kecil dari angkatan kerja di Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak utama dari kemajuan perekonomian, kemajuan sosial, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

Bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kata dia, rerata angkatan kerjanya sudah di atas 35 persen yang berpendidikan tinggi. Pada saat ini, Indonesia sedang memasuki apa yang dikenal dengan bonus demografi, di mana angkatan kerja jumlahnya lebih banyak daripada anak-anak dan usia manula.

“Namun bonus demografi tidak serta merta menghasilkan kemajuan, meskipun kita juga sudah melihat dalam sejarahnya. Mulai dari kita lihat yang nyata sekali Jepang,” ujarnya.

Pada dekade 70-an dengan bonus demografinya itu, berhasil membawa Jepang menjadi macannya Asia. Namun pada dekade 90-an hingga sekarang Jepang mulai mengalami atau memasuki masyarakat yang menua atau aging society.

Korea Selatan, yang di dekade 90-an memasuki bonus demografinya dan menjadi kekuatan baru ekonomi di Asia terjadi bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh Korea Selatan pada periode 1990-2000an sehingga tidak heran tahun-tahun tersebut Korea tumbuh dengan sangat pesat dan bahkan dalam banyak kompetisi bisa mengalahkan Jepang.

“Samsung misalnya, mengungguli Sony dalam produk hand phone dan produk alat-alat elektronik yang lain,” ucapnya.

Demikian pula China akhir 2000-an akhir mulai memasuki bonus demografinya. China sekarang menjadi raksasa dunia di dalam ekonomi. Momentum itu bersamaan dengan bonus demografi yang dialami oleh China pada 2010-an hingga sekarang.

Saat ini China pun juga mengalami aging society, sementara Indonesia sedang memasuki bonus demografi tersebut.

“Tentu peluang ini tidak boleh kita sia-siakan. Para sarjana baru bagian dari bonus demografi tersebut yang tentu dengan segala potensi, dengan segala kreativitas, anda sekalian akan menjadi bagian dari membangun ekonomi Indonesia yang lebih maju, membangun kesejahteraan masyarakat yang lebih makmur, serta berkeadilan mewujudkan Indonesia yang kita cita-citakan bersama,” ujarnya.

Dia mengingatkan, kemajuan dunia saat ini sangat ditentukan oleh inovasi. Dasar dari inovasi adalah kreativitas. Kreativitas dan inovasi akan lahir dari perguruan tinggi ketika para sarjananya memiliki jiwa merdeka.

Mempunyai semangat untuk terus berkreasi dan semangat untuk mengembangkan ilmu teknologinya, serta mendharma bhaktikan ilmu teknologinya itu untuk kemajuan bangsa dan negaranya.

“Saya yakin anda sekalian dengan bekal dari Universitas Muhammadiyah Malang, Anda sekalian sudah mendapat bekal yang cukup dari segi kompetensi dan dari sisi akhlak. Tinggal bagaimana anda sekalian memanfaatkan bekal tadi untuk membangun masa depan anda sekalian,” ujarnya.

Wisuda periode III UMM, Kamis (22/10/2020), diberlakukan secara daring dengan menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan.

Untuk memenuhi jaga jarak, maka wisuda dilakukan secara bergelombang dari peserta yang mendaftar. UMM juga mempersilakan wisudawan yang tidak bersedia mengikuti wisuda luring untuk mengikuti secara virtual di rumah masing-masing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja perguruan tinggi
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top