Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketegangan AS-China Berlanjut, Washington Kembali Incar Media China

Dilansir dari Bloomberg, enam media termasuk Economic Daily dan Jiefang Daily masuk ke dalam daftar yang disebut "misi asing."
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  12:49 WIB
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat kembali menetapkan enam media asal China ke dalam daftar yang disebut sebagai "misi asing" karena diduga dikendalikan oleh pemerintah Beijing.

Dilansir dari Bloomberg, media tersebut termasuk Economic Daily, yang memberitakan pandangan ekonomi Beijing, dan Jiefang Daily, yang merupakan publikasi resmi dari Komite Partai Komunis Shanghai.

Media lainnya termasuk Yicai Global, Xinmin Evening News, Social Sciences in China Press, dan Beijing Review, keempatnya kurang dikenal secara luas.

"Mereka semua secara substansial dimiliki atau dikendalikan secara efektif oleh pemerintah asing," kata Menteri Luar Negeri Michael Pompeo dalam briefing media pada Rabu (21/10/2020).

“Kami tidak membatasi apa pun yang dapat dipublikasikan outlet ini di Amerika Serikat. Kami hanya ingin memastikan bahwa rakyat Amerika, konsumen informasi, dapat membedakan antara berita yang ditulis oleh pers bebas dan propaganda yang didistribusikan oleh Partai Komunis China," lanjutnya.

Langkah ini merupakan aksi balasan terbaru dalam perselisihan antara AS dan China terkait kebebasan media. Pada bulan Februari, AS menetapkan lima outlet media Chna sebagai “misi asing,” termasuk Kantor Berita Xinhua dan China Daily.

Kemudian, Beijing merespons dengan mengusir belasan jurnalis dari tiga surat kabar asal AS. Kedua belah pihak juga terlibat dalam perselisihan mengenai visa jurnalis. Masing-masing negara menunda pembaruan identitas pers.

Pemimpin redaksi Global Times yang didukung Partai Komunis, Hu Xijin, mengatakan di Twitter bahwa AS telah bertindak terlalu jauh.

“Langkah ini akan semakin meracuni lingkungan kerja outlet media di negara masing-masing,” ungkapnya, seperti dikutip bloomberg.

Hu menambahkan bahwa China pasti akan merespons jika outlet media China benar-benar teretekan setelah pembatasan terbaru AS tersebut. Ia juga menyebut China dapat menargetkan outlet media AS di Hong Kong.

Kebebasan media telah lama menjadi titik perselisihan AS-China. Meskipun perusahaan media AS sebagian besar bersifat pribadi dan dilindungi oleh Amandemen Pertama, organisasi berita China dikelola oleh negara atau disensor dengan ketat.

Seluruh media China diawasi oleh Departemen Publisitas Pusat milik Partai. Juru bicara pemerintah China telah berulang kali mengutuk penindasan yang tidak masuk akal terhadap media China di AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top