Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demo Berbulan-Bulan di Thailand, Ini Pemicu dan 7 Tuntutan Demonstran

Pemicu awal munculnya tuntutan di jalanan tersebut akibat tuntutan reformasi monarki dan terpilihnya Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pada Pemilu 2019.
Anandita Marwa Aulia
Anandita Marwa Aulia - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  05:57 WIB
Para pedemo pro-demokrasi memadati jalan saat aksi protes antipemerintah, pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa tahun 1973, di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2020). - Antara/Reuters
Para pedemo pro-demokrasi memadati jalan saat aksi protes antipemerintah, pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa tahun 1973, di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2020). - Antara/Reuters

Bisnis.com, SOLO - Ribuan pengunjuk rasa menggelar demo anti-pemerintah dan memenuhi jalan-jalan Kota Bangkok, Thailand, sejak tiga bulan lalu.

Pemicu awal munculnya tuntutan di jalanan tersebut akibat tuntutan reformasi monarki dan terpilihnya Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pada Pemilu 2019.

Beberapa bulan terakhir, gerakan pro-demokrasi yang dipimpin oleh sekelompok mahasiwa memang berkembang pesat di Negeri Gajah Putih. Bahkan, beberapa aktivis pun secara terang-terangan menyuarukan reformasi monarki.

Dilansir dari The Guardian, Sabtu (17/10/2020), gelombang protes terhadap pemerintahan telah dimulai sejak Februari 2020, dipicu oleh pembubaran partai politik reformis bernama Future Forward. Namun, akibat pandemi Covid-19, aksi demo tersebut terpaksa ditunda.

Setelah itu, aksi unjuk rasa lanjutan memang baru-baru ini digelar.

Aksi kali ini bahkan mendapat perhatian luas, karena kritik terbuka terhadap monarki dan seruan reformasi Kerajaan Thailand.

Dalam salah satu tuntutannya, pendemo mengkritik kekayaan raja, pengaruhnya di bidang politik, dan kenyataan bahwa raja lebih sering menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri dibandingan di negara sendiri.

Bahkan, kabarnya sang raja Thailand, Raja Maha Vajiralongkorn sering menghabiskan waktunya di Jerman.

Kritik itu dinilai mengejutkan sebagain warga Thailand, sebab Kerajaan Thailand adalah sebuah institusi yang sangat dilindungi oleh undang-undang pencemaran nama baik. Bahkan, Kerajaan Thailand itu telah lama dianggap tidak tersentuh hukum dan tabu untuk dibicarakan, apalagi demo.

Kondisi ini karena pengaruh keluarga kerajaan meresap ke setiap aspek masyarakat dan telah memicu reaksi balik dari pendirian pro-loyalis Thailand yang kukuh.

Tujuh Tuntutan

Setidaknya ada tujuh pemicu menyulutnya amarah masyarakat Thailand.

Pertama, pembubaran partai politik Future Forward yang menjadi aspirasi politik kaum muda.

Kedua, hasil pemilu 2019 dinilai sarat akan kecurangan

Ketiga, pemerintah di duga terlibat skandal 1MDB

Keempat, ketidaksetaraan di muka hukum dan deskriminasi LGBT

Kelima, Krisis eknomi akibat pandemi Covd-19

Keenam, dugaan pelanggaran HAM oleh pemerintah Thailand

Ketujuh, mendesak reformasi peran kerajaan dan pengubahan UU pencemaran Nama Baik Kerajaan.

Sejak gerakan dimulai kembali pada bulan Juli, 21 aktivis anti-pemerintah telah ditangkap, didakwa melakukan penghasutan, dan dibebaskan dengan jaminan.

Dilansir AFP sebagaimana dikutip Washington Post dan BBC, dalam demo baru-baru ini rakyat Thailand melawan tabu, mengacungkan salam tiga jari pada iring-iringan mobil kerajaan sebagai simbol pemberontakan terhadap kepemimpinan Prayuth Chan-ocha.

Sebagai informasi simbol perlawanan itu terinspirasi dari film “Hunger Games” dan trilogi buku, pada iring-iringan mobil kerajaan yang membawa ratu Thailand.

Demo di Thailand diresponsdengan keluarnya dekrit darurat yang melarang adanya pertemuan lebih dari lima orang dengan alasan kondisi lingkungan sedang dilanda pandemi. Thailand juga meluncurkan aturan pembatasan media.

Dekrit itu diluncurkan setelah ribuan massa menuntut mundurnya Prayuth Chan-ocha di Ibu Kota Thailand, Bangkok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

demo thailand bangkok

Sumber : Solopos.com

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top