Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dampak Brexit, Korporasi Mulai Angkat Kaki dari Inggris

Banyak korporasi hengkang dari Inggris karena izin mereka sudah tidak berlaku lagi selepas negara tersebut bercerai dari Uni Eropa
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  08:30 WIB
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah Inggris untuk ‘bercerai’ dengan Uni Eropa atau Brexit membuat perusahaan-perusahaan finansial memindahkan aset-aset dan karyawannya ke negara lain di Eropa.

Dilansir dari Bloomberg, Kamis (1/10/2020), laporan dari EY menyatakan, perusahaan-perusahaan yang memiliki basis operasi di Inggris hingga saat ini telah memindahkan 7.500 karyawan dan aset senilai US$1,6 triliun ke negara-negara anggota Uni Eropa.

Laporan tersebut melacak kelangsungan operasi 222 perusahaan finansial dengan basis operasi yang besar di Inggris. 

Pada bulan lalu, sebanyak 400 rencana relokasi telah diumumkan dan akan terus bertambah. Adapun, sebanyak 2850 tenaga kerja telah dipindahkan ke negara-negara seperti Irlandia, Luksembur dan Jerman.

Sementara itu, JPMorgan Chase & Co telah merelokasi aset dan karyawannya dalam beberapa minggu belakangan. Adapun Goldman Sachs Group Inc. telah berencana memindahkan 100 orang dari Inggris ke negara-negara anggota Uni Eropa lain.

Selain itu, sebanyak 24 perusahaan layanan finansial juga mengatakan mereka akan memindahkan aset-aset mereka dari Inggris seiring dengan ketidakpastian perizinan operasi di ibukota keuangan di Benua Eropa tersebut.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, perusahaan di Eropa yang beroperasi di Inggris akan kehilangan lisensinya untuk menawarkan jasa-jasanya di negara anggota Uni Eropa. 

Kelangsungan operasi mereka amat bergantung pada kebijakan Uni Eropa untuk memberikan akses pelayanan tersebut kepada Inggris.

“Seiring dengan berakhirnya masa transisi Brexit, kami melihat sejumlah perusahaan telah masuk dalam fase terakhir untuk mengantisipasi hal ini ditengah terjadinya pandemi dan pembatasan pergerakan manusia. Sementara, sejumlah perusahaan juga masih terus memantau keadaan lebih lanjut dan perpindahan ini akan semakin meningkat dalam waktu dekat,” jelas Financial Services Managing Partner EY, Omar Ali.

Saat ini, Inggris masih memegang cukup banyak aset dari bank asal Amerika Serikat. Pada 2019, lima besar bank di Wall Street menyimpan aset mereka di Inggris sebesar US$136 miliar, sementara perusahaan asal Uni Eropa memiliki modal sebesar US$ 45 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top