Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Batu Bara China Tak Khawatirkan Target Bebas Karbon 2060

China berambisi menjadi negara bebas karbon pada 2060. Namun, industri batu bara di negeri ini disebutkan kembali seperti semula pada tahun-tahun mendatang bahkan setelah pengumuman tersebut.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 September 2020  |  14:29 WIB
Properti di Shenzhen, China, terlihat di latar belakang Taman Linhua./Bloomberg - Qilai Shen
Properti di Shenzhen, China, terlihat di latar belakang Taman Linhua./Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan besar batu bara China tidak mengkhawatirkan rencana negara tersebut untuk mengurangi emisi karbon secara drastis pada 2060.

Dilansir Bloomberg, Rabu (30/9/2020), menurut pejabat industri yang tidak ingin disebutkan namanya, bisnis akan kembali seperti semula pada tahun-tahun mendatang bahkan setelah pengumuman tersebut.

China akan terus menambah tambang dan pembangkit listrik baru hingga 2025, sehingga batu bara akan tetap mendominasi sektor kelistrikan negara itu. Target iklim Presiden Xi Jinping yang ambisius pada akhirnya harus memperhitungkan penggunaan bahan bakar fosil yang saat ini menyediakan lebih dari setengah energi China dan mendukung 3,5 juta pekerjaan.

Namun langkah menuju target itu bisa baru dimulai bertahun-tahun lagi mengingat negara ini masih berinvestasi pada pertambangan dan pembangkit listrik baru.

"Kerangka waktu 2060 meninggalkan kemungkinan untuk membangun lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara dan bahan bakar fosil dalam lima tahun ke depan dan memuncak pada emisi pada 2030," kata Alex Whitworth, direktur penelitian Wood Mackenzie Ltd.

Sulit untuk melebih-lebihkan pentingnya batu bara bagi China dan untuk memerangi perubahan iklim. Negara ini menambang dan membakar separuh pasokan dunia dan itulah alasan sektor listrik di sana menjadi penyumbang tunggal terbesar gas rumah kaca di atmosfer setiap tahun.

Masa depan yang netral karbon dinilai tidak sesuai dengan tingkat pembakaran batu bara yang mencapai 3,9 miliar ton pada tahun lalu. Para peneliti dari Institut Energi, Lingkungan, dan Ekonomi Universitas Tsinghua mengatakan tenaga batu bara harus dihilangkan pada 2050 agar China dapat mencapai tujuan Xi.

Sementara itu, perusahaan seperti China Resources Power Holdings Co. dan China Huaneng Group Co. telah berinvestasi secara agresif dalam energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, itu tidak menghentikan China untuk menggali tambang baru dan membangun pembangkit listrik baru. Menurut Daiwa Capital Markets, kapasitas produksi batu bara dapat meningkat menjadi 5 miliar ton per tahun pada 2025, dari 4,1 miliar saat ini.

Sementara itu, menurut Wood Mackenzie, negara ini akan meningkatkan kapasitas listrik batu bara lebih dari 10 persen menjadi 1.200 gigawatt pada tahun 2025.

Reformasi utama yang terjadi dalam industri batubara hingga saat ini berfokus pada konsolidasi dan bertujuan untuk efisiensi yang lebih tinggi. Negara ini menutup tambang yang lebih tua dan lebih kecil sambil memungkinkan kapasitas baru yang lebih maju untuk dibangun.

Tahun lalu, mereka membuka jalur Kereta Haoji senilai US$30 miliar untuk mengangkut batu bara langsung dari cekungan pusat pertambangan ke daerah yang haus energi di tenggara.

Pergeseran serupa terjadi di sektor tenaga batu bara, yang dapat membantu kualitas udara meskipun tidak menghilangkan emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim. Pemerintah menutup atau merenovasi pabrik yang kurang efisien dengan fasilitas yang lebih canggih yang menghasilkan lebih sedikit partikel PM2,5 yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china batu bara emisi karbon

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top