Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengurus PSHT di Sejumlah Daerah Minta Anggota Tak Terpancing Aksi di Solo

Ajakan razia mengemuka sebagai mempertanyakan perkembangan penyelidikan kasus penganiayaan yang diderita 3 pesilat PSHT di Solo, Selasa (15/9/2020).
Aris Munandar dan Indah Septiyaning Wardani
Aris Munandar dan Indah Septiyaning Wardani - Bisnis.com 22 September 2020  |  18:19 WIB
440 personel gabungan menyisir seluruh lokasi Kota Solo pada Senin (21/9/2020) hingga Selasa (22/9/2020) dini hari - Instagram
440 personel gabungan menyisir seluruh lokasi Kota Solo pada Senin (21/9/2020) hingga Selasa (22/9/2020) dini hari - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA - Pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di sejumlah daerah meminta para anggotanya tak terpancing untuk menyikapi ajakan turun ke jalan.

Ajakan razia itu diduga sebagai upaya mempertanyakan perkembangan penyelidikan kasus penganiayaan yang diderita tiga pesilat PSHT oleh orang tidak dikenal di Mojosongo, Solo, Selasa (15/9/2020) lalu.

Wakil Ketua Advokasi dan Hukum PSHT Pusat Madiun, Kanjeng Pangeran Eddy S. Wirabhumi, mengakui telah mendengar kabar ajakan para anggota PSHT untuk berbondong-bondong ke Plaza Manahan Solo, Selasa (22/9/2020) malam.

Eddy Wirabhumi menegaskan seluruh anggota PSHT untuk tidak terpancing menyikapi ajakan-ajakan untuk turun ke jalan. Menurutnya, entah berapa pun jumlah korban, tegas harus diserahkan kepada kepolisian untuk bekerja.

"Kalau merasa anggota PSHT Pusat Madiun jangan pernah ikut ajakan-ajakan itu. Beri waktu kepada kepolisian untuk mengungkap kasus penganiayaan itu. Kejadian itu malam hari dan pelaku menggunakan penutup sebagian wajah, pencarian pelaku juga tidak mudah," papar Eddy yang juga Ketua PSHT Cabang Keraton Solo itu kepada wartawan pada Selasa.

Eddy menambahkan saat ini PSHT tengah berusaha mengubah paradigma menuju kepada tertib sipil dan menghormati masyarakat.

Sementara itu, Ketua PSHT Cabang Kabupaten Wonogiri, Joko Prihanto, menyerukan kepada seluruh warganya agar tidak melakukan gerakan balasan atas peristiwa penganiayaan itu, termasuk ajakan untuk melakukan aksi yang direncanakan terjadi Selasa (22/9/2020) malam.

Joko menegaskan kepada seluruh warga PSHT Wonogiri untuk tidak mengikuti ajakan tersebut. Dia mengaku telah menyerukan hal tersebut kepada seluruh warga PSHT melalui pengurus di setiap kecamatan.

"Kami sudah umumkan beberapa hari lalu agar tidak melakukan gerakan. Karena pada hari ini , Selasa, ada ajakan untuk bergerak ke Solo, nanti sore kami melakukan imbauan lagi. Ini sebagai upaya mencegah massa bergerak ke Solo pada malam harinya," kata dia saat dihubungi Solopos.com.

Dia mengatakan setelah ada pertemuan dengan Polresta Solo dan Polres Sukoharjo, jajaran pengurus PSHT sepakat untuk menyerahkan kasus tersebut ke kepolisian. Lantaran itu, anggota PSHT Wonogiri diharapakan untuk tidak melakukan gerakan penekanan.

Selain itu, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan Ketua Cabang PSHT se-Soloraya. Karena dikhawatirkan masih ada massa yang bergerak ke Solo meski sudah diimbau agar tidak mengikuti ajakan itu.

"Kalau masih ada warga yang bergerak ke Solo, kami akan segera beri pengarahan dan pemahaman agar segera balik kanan, meninggalkan tempat, dan balik ke daerahnya masing-masing," ungkap dia.

Terpisah, PSHT Parluh 16 Kabupaten Sukoharjo juga mengimbau kepada seluruh warganya agar tidak terpancing ajakan memobilisasi massa ke Kota Solo. Hal itu disampaikan Pengurus PSHT Sukoharjo, Marjono, ketika berbincang dengan Solopos.com melalui telepon seluler pada Selasa (22/9/2020).

"Kami pengurus PSHT mengimbau agar warga PSHT Sukoharjo hendaknya membuat kondusif wilayah. Dan tidak memobilisasi anggota yang lain untuk mengikuti ajakan hal-hal yang merugikan terhadap organisasi," kata dia.

Menurutnya kasus penganiyaan yang menimpa sejumlah warga PSHT di Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo agar sepenuhnya diserahkan penanganannya kepada pihak yang berwajib. Pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait hal itu.

"Semua warga PSHT harus menahan diri. Tidak terpancing ajakan yang akan merugikan organisasi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Solo kasus penganiayaan wonogiri madiun

Sumber : JIBI

Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top