Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wabah Brucellosis Menyebar di China Akibat Kebocoran Pabrik

Ribuan orang di barat laut China terjangkit penyakit Brucellosis akibat kebocoran sebuah pabrik biofarma.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 September 2020  |  01:25 WIB
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah mengalami wabah Covid-19, China kini harus menghadapi wabah penyakit lain akibat paparan bakteri Brucellosis.

Seperti dikutip dari Tempo.co, Sabtu (19/9/2020), wabah itu menjangkiti ribuan orang di barat laut China akibat kebocoran pabrik biofarma. Hal itu dikonfirmasi oleh otoritas setempat pada Kamis (17/9/2020) waktu setempat.

Komisi Kesehatan Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu, mengkonfirmasi 3.245 orang terjangkit penyakit brucellosis. Adapun, penyakit tersebut muncul kibat kontak dengan hewan ternak yang membawa bakteri brucella.

Penyakit yang juga dikenal sebagai demam Malta atau demam Mediterania ini dapat menyebabkan gejala sakit kepala, nyeri otot, demam, dan kelelahan.

Menurut pusat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, kendati gejala ini bisa mereda, namun beberapa gejala tersebut bisa menjadi kronis atau tidak pernah hilang, seperti radang sendi atau pembengkakan pada organ tertentu.

Komisi Kesehatan Lanzhou memaparkan sebanyak 1.401 orang lainnya dinyatakan positif pada awalnya, meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Secara total, pihak berwenang telah menguji 21.847 orang dari 2,9 juta penduduk kota.

Hampir 20 dari 40 pasien yang terinfeksi bakteri yang diwawancarai oleh media tahun ini mengatakan mereka menderita demam, nyeri otot dan malaise. Gejala-gejala tersebut yang semuanya merupakan gejala Brucellosis.

Wabah ini berasal dari kebocoran di pabrik farmasi biologis Zhongmu Lanzhou, yang terjadi antara akhir Juli hingga akhir Agustus tahun lalu, menurut Komisi Kesehatan Lanzhou.

Saat memproduksi vaksin Brucella untuk hewan, pabrik menggunakan disinfektan dan pembersih kedaluwarsa sehingga tidak semua bakteri hilang dalam limbah gas.

Gas limbah yang terkontaminasi ini membentuk aerosol yang mengandung bakteri dan bocor ke udara, terbawa angin ke Institut Penelitian Hewan Lanzhou, tempat wabah pertama kali melanda.

Para ahli menyarankan agar orang tidak minum susu mentah yang tidak disterilkan dari sapi atau domba, untuk menghindari tertular Brucellosis.

Komisi Kesehatan Lanzhou juga mengumumkan dalam laporannya pada Selasa bahwa 11 rumah sakit umum akan memberikan pemeriksaan rutin dan gratis untuk pasien yang terinfeksi.

Adapun, Brucellosis sudah melanda Cina pada 1980-an, meskipun sejak itu menurun dengan munculnya vaksin dan pencegahan dan pengendalian penyakit yang lebih baik.

Namun, telah terjadi sedikit wabah brucellosis di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, salah satunya  di Bosnia menginfeksi sekitar 1.000 orang pada tahun 2008, mendorong pemusnahan domba dan ternak lain yang terinfeksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china penyakit wabah

Sumber : Tempo.co

Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top