Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Inggris Melonjak di Bulan Juli, Tapi Brexit Masih Membayangi

Peningkatan aktivitas yang didorong oleh pembukaan kembali restoran dan bar di awal Juli menjadi faktor penggerak perekonomian Inggris.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 September 2020  |  14:42 WIB
Perumahan di London, Inggris./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe
Perumahan di London, Inggris./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe

Bisnis.com, JAKARTA – Inggris mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat pada bulan Juli menyusul pelonggaran pembatasan. Tetapi meningkatnya jumlah pekerja yang mengalami PHK serta risiko proses Brexit yang tak mulus masih menjadi ancaman.

Berdasarkan data Bloomberg, produk domestik bruto (PDB) Inggris naik 6,6 persen pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, ketika mencapai rekor kenaikan 8,7 persen. Peningkatan aktivitas yang didorong oleh pembukaan kembali restoran dan bar di awal Juli menjadi faktor penggerak perekonomian

Namun, negara tersebut telah membalikkan lebih dari setengah output yang hilang selama lockdown, dan pemulihan sisanya diperkirakan akan sulit tercapai.

Meskipun Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan rebound telah datang, Inggris menghadapi pukulan tiga kali lipat yang dapat memaksa pembuat kebijakan untuk meningkatkan dukungan moneter dan fiskal untuk perekonomian.

Peningkatan kasus virus serta rencana pemerintah untuk mengakhiri program tunjangan gaji untuk perusahaan dapat menyebabkan lonjakan pengangguran. Selain itu, masih ada ketidakpastian dari proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Kantor Statistik Nasional mencatat seluruh sektor tumbuh kuat pada Juli, dipimpin oleh sektor konstruksi. Namun output masih 11,7 persen lebih rendah dibandingkan bulan Februari, sedangkan analis memperingatkan bahwa masih butuh waktu lama sebelum pertumbuhan ekonomi berbalik ke level pra-pandemi.

Risiko yang menghinggapi perekonomian termasuk kehilangan pekerjaan massal karena tunjangan gaji pemerintah berakhir, pembatasan baru untuk mengatasi lonjakan infeksi Covid-19, serta dan akhir masa transisi Brexit. Perusahaan memperkirakan adanya pengenaan tarif, kuota, dan pemeriksaan bea cukai jika Inggris dan UE tidak mencapai kesepakatan perdagangan sebelum akhir tahun.

 

Ancaman No-Deal Brexit

Angka PDB datang di tengah prospek kesepakatan Brexit yang surut secara dramatis, setelah Perdana Menteri Boris Johnson mengancam akan tidak mengindahkan hukum internasional dan menulis ulang kesepakatan yang dia buat tahun lalu.

“Bahkan jika perjanjian transisi Brexit berjalan mulus, tidak mungkin bahwa output yang hilang akan pulih sebelum akhir tahun depan,” kata ekonom UBS Global Wealth Management, Dean Turner.

"Perubahan terbaru dalam negosiasi meningkatkan prospek bahwa pemulihan apa pun mungkin membutuhkan waktu lebih lama," lanjutnya.

Ancaman tersebut menumpuk tekanan pada para pejabat di Inggris untuk berbuat lebih banyak guna menopang ekonomi. Bank of England, yang telah memperluas program pembelian aset dan memangkas suku bunga mendekati nol, telah menyatakan masih memiliki banyak ruang untuk menambahkan stimulus moneter, termasuk suku bunga negatif.

Meskipun Sunak menghadapi seruan untuk memperpanjang dukungan gaji bagi pekerja di sektor yang paling terpukul. Satu juta orang masih terancam kehilangan pekerjaan jika program tersebut berakhir pada Oktober, seperti yang diusulkan pemerintah saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi inggris Brexit
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top