Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Resensi Buku: Dia Menanti di Surga, Penguat Jiwa Setelah Ananda Tiada

Ila Fadilasari, dalam buku “Dia Menanti di Surga”, memaparkan secara gamblang bagaimana rasanya kehilangan buah hati. Dia menulis berdasarkan pengalaman pribadinya.
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 21 Agustus 2020  |  07:29 WIB
Dia Menanti di Surga
Dia Menanti di Surga

Bisnis.com, JAKARTA – Sering kita mendengar kabar wafatnya seorang bayi, baik di rumah sakit maupun saat dalam pengasuhan orang tuanya. Penyebab bayi meninggal pun bermacam-macam.

Angka kematian bayi memang masih cukup tinggi. Bayi adalah makhluk kecil yang masih mudah terkena serangan penyakit.

Bayi bisa meninggal dunia karena berbagai faktor, di antaranya disebabkan penyakit bawaan, meninggal mendadak saat tidur atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS), atau akibat penyakit yang diderita setelah lahir. Kematian juga bisa terjadi akibat adanya masalah di kandungan ataupun saat proses dilahirkan.

Kematian, apa pun penyebabnya, merupakan takdir Allah SWT. Namun, bagi orang tua mana pun, kehilangan buah hati bukanlah hal yang sepele.

Banyak orang tua yang tidak langsung mampu menerima takdir kematian buah hatinya dan larut dalam kesedihan berkepanjangan. Terbayang, bayi mungil itu harus dilepaskan dari pelukan kasih sayang ayah bundanya, dan menjalani kehidupan yang sendirian di alam lain.

Rasa sedih berkepanjangan membuat banyak orang tua terus menyalahkan diri sendiri, menyalahkan pasangan, atau bahkan menyalahkan nasib. Perasaan negatif itu membuat orang tua terus terkungkung dalam penderitaan, hingga membuat dirinya sakit dan kehilangan semangat hidup. Kesedihan tersebut ternyata tidak juga hilang, bahkan ketika sudah memiliki anak lagi.

Ila Fadilasari, dalam buku “Dia Menanti di Surga”, memaparkan secara gamblang bagaimana rasanya kehilangan buah hati. Dia menulis berdasarkan pengalaman pribadinya.

Dia mengungkapkan kehadiran sang anak sangat dinantikan, sebagai pelengkap kehidupan rumah tangga mereka, yang sebelumnya sudah memiliki anak perempuan. Namun, anak laki-lakinya, harus berpulang dalam usia yang teramat muda, yaitu 2,5 bulan.

Ila yang mantan jurnalis itu membagi buku setebal 254 + xii halaman itu menjadi empat bagian. Bagian pertama “Cerita Alvin” yang terdiri dari 24 subbagian, dimulai dari kisah penulis bersama suami dan anak sulungnya menempati rumah baru di pinggir kota.

Kemudian diteruskan dengan kisah kesepian yang melanda kehidupannya, hamil, lalu melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Alvin Rafa Semenguk.

Di bagian pertama itu diulas awal mula dan bagaimana Alvin sakit, upaya pengobatan, dirawat di rumah sakit, Alvin dirawat di ICU dengan kondisi yang lemah, hingga sang buah hati mengembuskan napas terakhir.

Bagian kedua, “Mengatasi Kesedihan”, penulis membagikan dalam lima subbagian, yang intinya memuat bagaimana cara menguatkan hati, mengusir kegalauan, dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Peran orang dekat sangat membantu menguatkan hati yang rapuh, selain memperkuat diri dengan ilmu agama.

Di bagian ketiga, “Pneumonia”, Ila menjelaskan tentang penyakit yang menyerang anaknya, yang ternyata bernama Pneumonia itu.

Ternyata, penyakit itu merupakan pembunuh nomor satu di dunia pada bayi dan anak-anak, menurut data World Health Organization (WHO) dan United Nations Children's Fund is a United Nations (UNICEF).

Namun sayang, sebagai penyakit yang berbahaya, pneumonia di negara berkembang merupakan penyakit yang terabaikan (the negleted disease) atau penyakit yang terlupakan (the forgetten disease).

Gejalanya yang mirip salesma biasa membuat orang tua kerap abai terhadap penyakit tersebut. Apalagi dalam masyarakat kita ada anggapan, bayi yang sakit tidak perlu berobat. Dia tidak perlu buru-buru dibawa ke dokter atau minum obat, cukup diberi ASI, nanti sembuh sendiri, atau minum obat melalui ibunya.

Pada bagian keempat “Kisah Orang Tua yang Kehilangan Buah Hati”, penulis memaparkan kisah orang-orang tua yang kehilangan anaknya.

Ada yang kehilangan satu anak, tiga, bahkan empat anak, dengan berbagai proses dan penyebab. Pada bagian ini Ila ingin menekankan bahwa peristiwa kehilangan buah hati tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua orang, melainkan banyak sekali orang tua yang mengalaminya.

Pada epilog, Ila menuliskan bahwa memang tak dapat dipungkiri, duka itu tidak akan sirna secara sempurna. Sedih dan trauma itu tetap ada sampai kapan pun. Hanya kadarnya yang perlahan akan berkurang.

Ketika orang tua yang kehilangan buah hati memiliki anak lagi, sedih itu tetap tidak akan hilang. Bahkan bisa jadi kesedihan dengan kadar yang sama datang lagi atau justru akan makin bertambah, karena orang tua akan berhitung-hitung, seharusnya anaknya sudah dua, tiga, empat, dan seterusnya.

Seyogyanya, anak yang berpulang merupakan “warning” bagi orang tua sebagai “peluang” untuk masuk surga. Dia telah menunjukkan diri pada orang tuanya sebagai penolong dan tabungan di hari kemudian. Hadits Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni surga dan akan meminta kepada Allah agar bisa tinggal bersama-sama orang tuanya.

Buku ini bisa menjadi salah satu alternatif “hiburan” bagi para orang tua yang kehilangan buah hati.

Selain berbagi kisah dari penulis, juga agar orang tua tidak merasa sendirian menghadapi takdir yang berat itu.

Pola penuturan dalam buku ini sangat menarik, sehingga dapat membawa pembaca larut dalam kesedihan dan emosi penulis, terutama subbagian “Takdir Mengakhiri Segalanya”.

Meski menuturkan kisah sedih, Ila kerap menyelipkan kalimat-kalimat kocak dalam tulisannya. Misalnya ketika Ila menceritakan saat dia keluar dari ruang ICU usai Alvin melepas nyawa. “Ketika aku membuka ruang ICU, kulihat banyak mata memandang ke arahku. Mungkin mereka sudah tahu, Alvin telah tiada. Aku melempar senyum pada mereka. Namun tak seorang pun yang membalas senyumku.”

Tentu saja buku ini tidak hanya menarik dibaca oleh orang tua yang mengalami kehilangan buah hati, melainkan secara keseluruhan mengajak pembaca, khususnya para orang tua, untuk selalu menyayangi buah hati yang telah dititipkan Allah kepada mereka.

Bila terserang penyakit, jangan lalai dengan menunda berobat, tetapi jangan juga panik. Penulis juga mengingatkan ada penyakit yang amat berbahaya bagi bayi dan anak-anak, yang selama ini dianggap remeh atau tidak disadari masyarakat.

Bagi orang tua yang anaknya berpulang, harus tetap kuat dan tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan.

Data Buku:

Judul: Dia Menanti di Surga

Penulis: Ila Fadilasari

Halaman: xii + 254 (13,3x20,5 cm)

Penerbit: Pusaka Media

Cetakan: Pertama, Maret 2020

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

resensi buku
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top