Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Spanyol dan Prancis Resesi, Ekonomi Eropa Makin Suram

Ekonomi 19 negara di Eropa diperkirakan bakal terkontraksi 12,1 persen. Penurunan tersebut sebagai dampak dari kebijakan karantina yang sangat ketat pada bisnis, pengeluaran konsumen, hingga pariwisata di beberapa negara.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 31 Juli 2020  |  19:13 WIB
Seorang pejalan kaki melintas di pedestrian kawasan bisnis di Madrid, Spanyol. Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen. - Bloomberg
Seorang pejalan kaki melintas di pedestrian kawasan bisnis di Madrid, Spanyol. Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi kawasan Eropa terporosok sangat dalam pada kuartal II/2020 dan diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun untk bisa pulih.

Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen.

Posisi kedua disusul oleh Prancis yang mengalami penurunan ekonomi sebesar 13 persen dan Italia berada di posisi ketiga dengan penurunan sebesar 12,4 persen.

Ekonomi 19 negara di kawasan Eropa secara keseluruhan diprediksi mengalami kontraksi 12,1 persen. Penurunan tersebut sebagai dampak dari kebijakan karantina yang sangat ketat pada bisnis, pengeluaran konsumen, hingga pariwisata di beberapa negara.

Krisis terparah terjadi pada sektor kesehatan di negara-negara yang tidak kuat secara ekonomi. Negara-negara ini pun sulit mluncurkan stimulus untk membantu dunia usaha dan rumah tangga.

Alhasil, pemimpin Uni Eropa berupaya mengatasi perbedaan tersebut dengan menyetujui adanya pinjaman bersama dan menyetujui dana penyelamatan bersejarah semilai US$889 juta.

Di samping itu, untuk menahan guncangan ekonomi, pemerintah nasional di kawasan Eropa memperluas anggaran mereka untuk menghadapi krisis. European Central Bank juga meluncurkan program darurat obligasi senilai 1,35 triliun euro.

"Saya tidak berpikir siapapun yang benar-benar realistis berpikir bahwa tingkat PDB pada akhir 2021 akan kembali ke level sebelum krisis," kata Kepala Ekonom UniCredit Group Erik Nielsen, yang dilansir melalui Bloomberg, Jumat (31/7/2020).

Kemerosotan ekonomi Spanyol dan Prancis di kuartal kedua dinilai menyebabkan posisi yang rentan pada kedua negara ini karena terbeban utang dan proses pemulihan ekonomi yang diperkirakan akan sangat lambat.

Di samping itu, rebound di Eropa juga terancam oleh lonjakan kasus Covid-19 baru di seluruh dunia. Pemerintah di kawasan Eropa enggan kembali menerapkan lockdown. 

Namun di sisi lain ekonomi di kawasan ini akan sangat terpuruk jika ketakutan terhadap virus corona akan mengubah perilaku konsumen dan menghentikan orang-orang bepergian ke toko, bar, dan restoran.

Risiko besar lainnya adalah kerugian jangka panjang pada pasar tenaga kerja. Jumlah pengangguran di kawasan Eropa tercatat meningkat tinggi seiring dengan perusahaan-perusahaan yang kehilangan permintaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Pertumbuhan Ekonomi resesi covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top