Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Warga Negara Singapura Mengaku Bersalah Menjadi Mata-Mata China

Dikutip dari BBC, Jun Wei Yeo didakwa menggunakan konsultasi politiknya di Amerika untuk mengumpulkan informasi bagi intelijen China.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 25 Juli 2020  |  12:27 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Hubungan China dan Amerika Serikat (AS) semakin membara setelah seorang pria Singapura mengaku bersalah karena bekerja sebagai agen China.

Kasus ini muncul ketika tensi hubungan diplomasi antara Washington dan Beijing meningkat. Dikutip dari BBC, Jun Wei Yeo didakwa menggunakan konsultasi politiknya di Amerika untuk mengumpulkan informasi bagi intelijen China.

Pengakuan ini muncul setelah AS menahan seorang peneliti China yang memiliki keterkaitan dengan militer China.

Departemen Hukum AS mengatakan Jun Wei Yeo, yang juga dikenal dengan nama Dickson Yeo, dinyatakan bersalah dalam persidangan pada Jumat (24/7/2020).

"Pernyataan bersalah hari ini menggarisbawahi cara pemerintah China terus menargetkan warga Amerika dengan menyasar akses ke informasi pemerintah yang sensitif, termasuk menggunakan Internet dan warga negara non-China untuk menargetkan warga Amerika yang tidak pernah meninggalkan Amerika Serikat," kata Michael Sherwin, Penjabat AS untuk Distrik Columbia, dikutip dari Bloomberg.

Asisten direktur divisi kontra intelijen FBI Alan Kohler Jr. mengungkapkan Yeo, yang mulai bekerja dengan perwira intelijen China pada awal 2015 telah menargetkan pegawai pemerintah Amerika dan seorang perwira militer untuk memperoleh informasi bagi pemerintah China.

Yeo mengaku mendirikan perusahaan konsultan palsu pada 2018 untuk melanjutkan rencananya dan mencari individu dengan informasi sensitif.

Hubungan China dan AS telah makin memanas dalam satu bulan terakhir. China sebelumnya memerintahkan penutupan konsulat AS di Chengdu.

Langkah untuk menutup misi diplomatik di kota barat daya itu sebagai tanggapan atas penutupan konsulat China di Houston, AS.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan keputusan itu diambil karena China telah mencuri kekayaan intelektual.

Juru Bicara Minister Luar Negeri China Wang Wenbin mengungkapkan bahwa langkah AS didasarkan pada "kebohongan anti-China".

Setelah 72 jam batas akhir, diplomat China meninggalkan konsulat Houston pada Jumat sore (25/7/2020). Media melihat beberapa laki-laki tampak seperti pejabat AS membuka paksa pintu konsultan.

Sementara itu, dilansir oleh BBC, petugas keamanan dari Biro Keamanan Diplomasi tampak berjaga di luar gedung konsultan China tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat mata-mata
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top