Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Sewot, Perjanjian Dagang dengan China Tak Begitu Penting

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terdengar sedang sewot. Di matanya, perjanjian perdagangan yang sudah dibuat AS dengan China tidak lagi begitu berarti.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  06:42 WIB
 Presiden AS Donald Trump berbicara selama acara di Fincantieri Marinette Marine di Wisconsin, Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2020). (Thomas Werner - Bloomberg)\n
Presiden AS Donald Trump berbicara selama acara di Fincantieri Marinette Marine di Wisconsin, Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2020). (Thomas Werner - Bloomberg)\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump terdengar sedang sewot. Di matanya, perjanjian perdagangan yang sudah dibuat AS dengan China tidak lagi begitu berarti.

Pandangan ini dipengaruhi oleh peran China dalam penyebaran virus Corona (Covid-19). Trump berulang kali menyalahkan China dan menuntut Negeri Tirai Bambu untuk bertanggung jawab karena gagal mengendalikan virus mematikan tersebut.

“Kesepakatan perdagangan itu kini menjadi kurang berarti bagi saya ketimbang ketika saya membuatnya,” kata Trump dalam suatu briefing di Gedung Putih pada Kamis (23/7/2020) malam waktu setempat, seperti dilansir Bloomberg.

Perjanjian dagang Fase 1 yang dibuat pada Januari berfokus pada pembelian barang-barang AS oleh China, meningkatkan akses AS ke pasar jasa keuangan China, dan beberapa masalah kekayaan intelektual.

China berjanji untuk meningkatkan pembelian hasil pertanian AS dan barang-barang manufaktur, energi dan jasa sebesar US$200 miliar selama dua tahun sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan Fase 1.

Akan tetapi, Trump mengatakan pandemi itu telah mengubah pandangannya tentang perjanjian tersebut.

Dalam kesempatan yang sama pada Kamis, Trump juga mengeluh bahwa AS harus menutup kegiatan perekonomiannya untuk membendung infeksi Corona.

Sementara itu, banyak jajak pendapat menunjukkan semakin banyak warga AS yang tidak setuju atas caranya menangani Covid-19.

Trump telah mengambil sejumlah tindakan yang dirancang untuk menghukum pemerintah Beijing karena berbagai isu, termasuk upaya untuk membatasi kebebasan politik di Hong Kong dan penahanan sekitar 1 juta Muslim minoritas.

Yang terkini, pemerintah AS memerintahkan China untuk menutup kantor konsulatnya di Houston, kota terbesar keempat di AS. Tindakan itu menjadi salah satu ancaman terbesar terhadap hubungan diplomatik antara kedua negara dalam beberapa dasawarsa.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan langkah ini diambil untuk melindungi kekayaan intelektual Amerika dan informasi pribadi Amerika. China telah bersumpah akan membalasnya.

Namun, Trump dsebut-sebut telah mengindikasikan tidak ingin meningkatkan ketegangan dengan Beijing, dan telah mengesampingkan sanksi tambahan untuk saat ini terhadap sejumlah pejabat tinggi China.

Konflik yang meradang dengan China dapat menciptakan tekanan baru bagi ekonomi AS yang sudah terpukul oleh dampak pandemi Covid-19.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Donald Trump perang dagang AS vs China
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top