Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Separuh Jumlah Pasien Covid-19 di Baja California Meninggal Dunia

Separuh dari jumlah pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit di Baja California, Meksiko, dilaporkan meninggal.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  06:33 WIB
Sebuah papan ucapan selamat datang di kota Tijuana, kota terbesar di negara bagian Baja California, Meksiko. Sebanyak 2.337 dari 4.760 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit negara bagian tersebut dinyatakan meninggal. - Bloomberg
Sebuah papan ucapan selamat datang di kota Tijuana, kota terbesar di negara bagian Baja California, Meksiko. Sebanyak 2.337 dari 4.760 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit negara bagian tersebut dinyatakan meninggal. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Separuh dari jumlah pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit di Baja California, Meksiko, dilaporkan meninggal.

Menurut para ahli, kondisi yang mengkhawatirkan ini disebabkan banyak yang menunggu terlalu lama untuk masuk rumah sakit karena mereka takut akan kondisi buruk rumah sakit.

"Mereka melihat rumah sakit sebagai tempat mereka sakit, bukan menjadi lebih baik," kata anggota tim respons Doctors Without Borders di Baja, Jonathan Prieto, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (20/7/2020).

Data pemerintah menunjukkan sebanyak 2.337 dari 4.760 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit negara bagian tersebut telah meninggal. Secara persentase, angka kematian ini mencapai 49 persen, tertinggi di Meksiko.

Banyak rumah sakit umum di Meksiko kekurangan peralatan dasar, obat-obatan dan personil, dan kondisi ini telah menyebabkan banyak warga menjauhi rumah sakit selama mungkin.

Data juga menunjukkan bahwa negara bagian Baja California memiliki tingkat kematian tertinggi kedua di Meksiko per 100.000 orang.

Hingga Sabtu (18/7/2020), Meksiko sudah mencatatkan 338.913 kasus, dengan 38.888 orang di antaranya meninggal dunia, angka kematian terbesar nomor empat setelah Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris. Mengingat tingkat pengujian yang rendah di negara itu, jumlah sebenarnya dari total infeksi bisa jauh lebih tinggi.

Seperti halnya negara lain, pemerintah Meksiko telah menyampaikan beragam pesan kepada warga yang merasa sakit. Pada masa awal pandemi, Presiden Andres Manuel Lopez Obrador mengatakan warga harus tinggal di rumah dan hanya pergi ke rumah sakit dalam keadaan darurat.

Belakangan, Wakil Menteri Kesehatan Hugo Lopez Gatell meminta siapa saja yang menunjukkan gejala sakit untuk menjalani perawatan di rumah sakit.

"Sebagian besar pasien yang dirawat sudah memiliki masalah pernapasan," kata seorang perawat di Rumah Sakit Juarez, Mexico City, Yanet Cortes.

Dan jika pasien memerlukan ventilator, tidak selalu dijamin bahwa petugas yang mengoperasikannya akan tahu cara menggunakan alat ini karena banyak pekerja rumah sakit adalah karyawan baru, ungkap Prieto.

Di seluruh negeri, kebanyakan pasien yang meninggal di rumah sakit bahkan tidak pernah mencapai unit perawatan intensif, menurut data pemerintah setempat. Pada tingkat nasional, 88 persen pasien rawat inap meninggal di tempat tidur umum dan hanya 12 persen yang meninggal di ICU.

“Budaya juga berperan dalam tingginya angka kematian di rumah sakit. Warga mencoba segala macam pengobatan rumahan sebelum meminta perawatan [ di rumah sakit],” tambah Cortes.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

meksiko covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top