Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wah! Di Chili, Partikel Tembaga Diklaim Mampu Cegah Virus

Aintech mengklaim telah menggunakan campuran nanopartikel tembaga dalam produk desinfektan yang dikembangkan untuk membunuh dan mencegah virus serta bakteri.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  12:53 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Salah satu laboratorium di Chili mengklaim bahwa penggunaan partikel kecil tembaga mampu menahan penyebaran virus di masyarakat.

Dilansir dari Bloomberg, Aintech yang berbasis di Santiago mengklaim telah menggunakan campuran nanopartikel tembaga dalam produk desinfektan yang dikembangkan untuk membunuh dan mencegah virus serta bakteri pada permukaan benda.

Salah satu produk yang dikembangkan berbentuk semprotan alkohol yang dapat digunakan pada sepatu atau masker wajah. Sementara itu, perusahaan juga mengembangkan produk untuk untuk permukaan keras yang efeknya diklaim dapat bertahan selama sepekan.

Biasanya, tembaga digunakan dalam industri perkabelan karena merupakan logam penghantar listrik yang baik. Saat ini, logam ini digunakan untuk melapisi segala sesuatu mulai dari peralatan olahraga hingga kandang di peternakan salmon.

Produsen tembaga Chili Codelco juga telah mempromosikan penggunaan penggunaan pertikel tembaga di rumah sakit, bandara, dan bahkan kaus kaki.

Pelanggan Aintech termasuk operator bis Santiago, klub sepak bola lokal, dan tambang tembaga terbesar kedua di negara itu, Collahuasi. Menteri Pertambangan Baldo Prokurica juga telah menggunakan produk ini untuk membersihkan kantornya.

Meskipun perusahaan berencana untuk menjual produk pembersihnya di luar negeri, untuk saat ini mereka memasarkannya di Chili.

Profesor mikrobiologi dan imunologi di Medical University of South Carolina Dr. Michael G. Schmidt mengatakan penggunaan logam tembaga dalam tubuh masih diragukan, mengingat belum ada bukti ilmiah mengenai efek samping kesehatan jangka panjang jika orang menghirup partikel nano logam.

"Saya mendukung tembaga untuk digunakan sebagai antimikroba serta dalam solusi spesifik, namun teknologi ini sepertinya belum siap digunakan untuk pandemi ini," ujar Schmidt, seperti dikutip Bloomberg.

Salah satu pendiri Aintech, Vittorio Stacchetti, mengatakan perusahaan telah melakukan sejumlah penelitian di laboratorium Merieux NutriSciences di Italia dan membuktikan efektivitas produknya.

Tidak ada bukti bahwa partikel yang dikembangkan yang berbahaya bagi manusia karena konsentrasi tembaga sangat rendah, katanya, seraya menambahkan bahwa Institut Kesehatan Masyarakat Chile telah menyetujui produk tersebut dan sedang memproses pendaftarannya.

"Yang kita bicarakan saat ini adalah partikel yang sangat, sangat kecil. Partikel ini mampu masuk ke lubang mikro di permukaan dan bertahan di sana,” ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Chili
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top