Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketegangan Meningkat, Boikot India Terhadap Produk China Tidak Mudah

Hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi Asia ini sangat erat sehingga mengurangi ketergantungan India pada China dinilai tak akan mudah.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  10:06 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama PM India Narendra Modi menyapa anak-anak saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/5/2018). - Reuters/Darren Whiteside
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama PM India Narendra Modi menyapa anak-anak saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/5/2018). - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA - Ketegangan politik antara India dan China semakin mencuat sehingga mempengaruhi hubungan dagang kedua negara, menyusul bentrokan yang terjadi perbatasan.

Dalam bentrokan itu, beberapa tentara di kedua belah pihak terbunuh, seruan-seruan telah meningkat di India untuk memboikot produk-produk China.

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi minggu ini melarang penggunaan 59 aplikasi China. Tidak hanya itu, barang-barang dari China tengah menumpuk di pelabuhan-pelabuhan India. Pihak berwenang berencana untuk mengenakan tarif lebih tinggi dan kontrol kualitas yang ketat pada pengiriman.

Namun, tak dapat disangkal bahwa hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi Asia ini sangat erat sehingga mengurangi ketergantungan India pada China dinilai tak akan mudah.

"Larangan total impor China tidak akan bisa dilakukan. Itu akan menjadi proposisi yang mengalahkan diri sendiri," kata Harsh Pant, seorang profesor hubungan internasional di King's College London.

Beijing merupakan sumber impor terbesar New Delhi. Pembelian India dari China mulai dari barang elektronik, bahan obat utama hingga mesin industri hampir mencapai US$70 miliar pada 2019. Defisit perdagangan bilateral sekitar US$50 miliar jauh lebih tinggi daripada dengan mitra dagang lainnya. Modi telah mencoba menghidupkan kembali manufaktur dalam negeri dengan seruan untuk kemandirian dan pengurangan impor secara keseluruhan.

Porsi China untuk impor India telah menurun sejak 2015, tetapi itu bisa jadi karena perdagangan dialihkan ke Hong Kong, di mana pengiriman telah meningkat. Pangsa impor dari kota semiotonom itu meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 3,6 persen selama periode tersebut.

Sementara itu, India berupaya meningkatkan ekspor tahunannya menjadi US$1 triliun pada 2025 dan perdagangan dengan China akan memainkan peran kunci dalam mencapai hal itu.

China kini adalah salah satu dari tiga pelanggan utama India, terhitung 5,6 persen dari pengiriman keluar tahun lalu. Barang-barang ekspor utama yakni permata dan perhiasan, produk pertanian, tekstil, dan petrokimia.

Radhika Rao, ekonom India di DBS Group Holdings Ltd. di Singapura mengatakan penundaan barang-barang ini akan berdampak pada pendapatan dolar untuk bisnis.

Ketergantungan pada China juga melampaui perdagangan. Bisnis China telah berinvestasi di bidang yang menyentuh kehidupan sehari-hari konsumen India, seperti pengiriman makanan dan aplikasi perjalanan, platform e-commerce dan pembayaran digital.

Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. telah berinvestasi pada startup di India. Meskipun China ketinggalan sebagian besar ekonomi utama dalam hal jumlah investasi asing langsung yang dimasukkan ke India selama dua dekade terakhir, tingkat pertumbuhan telah terus meningkat dari daratan serta Hong Kong dalam beberapa tahun terakhir.

Awal tahun ini, India memberlakukan pembatasan pada beberapa investasi asing di perusahaan lokal, dalam sebuah langkah yang bertujuan mencegah pengambilalihan oportunistik oleh investor China

Adapun di sektor pariwisata, sejak 2000 jumlah pengunjung India ke China telah meningkat enam kali lipat menjadi hampir 900.000 pada 2018, menurut data terbaru dari Biro Statistik Nasional China. Pada tahun yang sama, 300.000 pengunjung China melakukan perjalanan ke India, dibandingkan dengan hanya beberapa ribu pada pergantian abad ini, menurut data dari Kementerian Pariwisata India.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china india
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top