Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

India Blokir Aplikasi, Ekspansi Teknologi China Terancam

Moratorium kejutan dari India tersebut menghantam perusahaan-perusahaan internet China ketika mereka mulai membuat kemajuan di pasar seluler yang tumbuh paling cepat di dunia tersebut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  11:19 WIB
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada
Logo TikTok ditampilkan di TikTok Creator's Lab 2019 yang digelar Bytedance Ltd. di Tokyo, Jepang, Sabtu (16/2/2019). - Bloomberg/Shiho Fukada

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak dekade terakhir, China tengah membangun dunia maya ‘alternatif’ dengan memblokir Google dan Facebook. Kini perusahaan teknologi dalam negeri mereka sendiri seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd., merasakan hal yang sama oleh India.

Keputusan India yang melarang 59 aplikasi terbesar di China menjadi peringatan bagi raksasa teknologi di negara itu, yang selama bertahun-tahun berkembang di belakang Great Firewall yang diberlakukan pemerintah China untuk mencegah banyak perusahaan teknologi asal AS

India dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dari Eropa hingga Asia Tenggara yang berupaya untuk mengurangi merebaknya aplikasi seperti TikTok milik ByteDance Ltd. sambil melindungi data berharga warganya.

Moratorium kejutan dari India tersebut menghantam perusahaan-perusahaan internet China ketika mereka mulai membuat kemajuan di pasar seluler yang tumbuh paling cepat di dunia.

Tercatat ada 200 juta pengguna asal India yang terdaftar di TikTok, sedangkan Xiaomi Corp menjadi ponsel pintar nomor satu di sana. Sementara itu, Alibaba dan Tencent secara agresif menggenjot layanan mereka.

Tetapi kebijakan India membahayakan semua keberhasilan itu, dan dapat memiliki konsekuensi geopolitik yang lebih luas ketika AS berupaya untuk mengumpulkan negara-negara untuk berhenti menggunakan teknologi jaringan 5G dari Huawei Technologies Co.

Dengan perusahaan teknologi China siap menjadi beberapa yang paling dominan dalam industri terkini seperti kecerdasan buatan, langkah India dapat memicu negara-negara lain di seluruh dunia untuk kembali mempertimbangkan pengaruh teknologi perusahaan China yang berpotensi menjadi bargaining power sengketa di masa depan.

"Nasionalisme teknologi akan semakin terlihat di semua aspek geopolitik, seperti keamanan nasional, daya saing ekonomi, bahkan nilai-nilai sosial," kata analis Hinrich Foundation, Alex Capri.

"Akan semakin sulit untuk memisahkan perusahaan teknologi China dari pengaruh Partai Komunis dan ambisi geopolitik China. Mereka akan semakin terikat,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Perusahaan teknologi china telah berjuang untuk mereplikasi layanan online mereka di luar wilayah negara, bahkan sebelum anggota parlemen di AS mulai mengemukakan kekhawatiran tentang kebijaksanaan membiarkan perusahaan seperti ByteDance  untuk mengumpulkan data pribadi penggunanya.

India memperkuat kekhawatiran itu dengan menuduh bahwa sejumlah aplikasi seperti TikTok, WeChat milik Tencent, UC Web dari Alibaba, serta layanan penerjemahan otomatis Baidu Inc. mengancam kedaulatan dan keamanan negaranya.

Direktur Pusat Studi Asia Pasifik di Universitas Lingnan, Zhang Baohui, mengatakan China perlu harus khawatir bahwa dampak dari ketegangan dengan India dapat membuat negara tersebut berpihak ke AS.

"Tetapi langkah-langkah ekonomi baru-baru ini oleh India mungkin tidak membuat Beijing khawatir karena pemerintah Presiden Modi, yang menghadapi meningkatnya nasionalisme domestik, harus melakukan sesuatu untuk menenangkan sentimen publik dan mempertahankan legitimasi," ungkap Baohui

Belum ada penjelasan lebih lanjut bagaimana India menegakkan keputusannya memblokir 59 aplikasi tersebut, mengingat TikTok telah diunduh oleh sekitar satu dari enam orang India Tetapi langkah tersebut jelas mengikuti serangkaian kebijakan untuk mengekang kehadiran China di negara itu.

Hal ini juga menunjukkan sikap tegas pemerintah sejak ketegangan kedua negara kembali meledak menyusul bentrokan di perbatasan Himalaya yang menewaskan 20 tentara India.

Situs resmi pengadaan pemerintah India telah melarang pembelian barang-barang buatan China. Pihak berwenang telah meminta perusahaan e-commerce terbesar, termasuk Amazon.com Inc. dan Flipkart (Walmart Inc.), untuk mulai memberikan informasi negara asal pada barang yang dijual.

"Pemerintah India bersikap sama seperti China yang memberlakukan larangan total di internet, dan pada dasarnya membentuk versi India dari Great Firewall," kata peneliti di Digital Asia Hub, Dev Lewis.

ByteDance diperkirakan akan sangat terdampak secara langsung dari larangan ini. India adalah salah satu pasar terbesarnya dengan lebih dari 200 juta pengguna TikTok. Selama larangan singkat tahun lalu, perusahaan China memperkirakan kehilangan pendapatan sekitara US$500.000 per hari.

Dalam pernyataan di Twitter, kepala TikTok India Nikhil Gandhi mengatakan perusahaan mematuhi semua persyaratan privasi dan keamanan data berdasarkan hukum India dan belum berbagi informasi pengguna dengan pemerintah asing, termasuk Beijing.

Larangan di India juga memberikan kesempatan bagi perusahaan asal AS di pasar teknologi India. Meskipun WeChat tidak berkembang pesat di India, pelarangan itu dapat menguntungkan WhatsApp. Sedangkan pelarangan TikTok segera memberi keuntungan bagi YouTube.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china india TikTok
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top