Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonom: Perang Dingin AS-China Lebih Mengkhawatirkan daripada Wabah Covid-19

Dunia menuju periode "gangguan besar tanpa kepemimpinan" setelah pandemi Covid-19.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  10:32 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Memperdalam perang dingin antara AS dan China akan lebih mengkhawatirkan bagi dunia daripada wabah Covid-19, menurut ekonom berpengaruh Jeffrey Sachs.

Dunia menuju periode "gangguan besar tanpa kepemimpinan" setelah pandemi Covid-19, katanya seperti dikutip BBC.com, Senin (21/6/2020)

Pertikaian antara dua negara adidaya akan memperburuk hal it, katanya memperingatkan. Profesor dari Universitas Columbia itu menyalahkan pemerintah AS atas permusuhan antara kedua negara.

"AS menunjukkan kekuatan untuk perpecahan, bukan untuk kerja sama," katanya  dalam sebuah wawancara dengan BBC Business Report.

"Ini adalah kekuatan untuk mencoba menciptakan perang dingin baru dengan China. Jika ini terjadi, jika pendekatan semacam itu digunakan, maka kita tidak akan kembali normal. Kita akan memicu kontroversi yang lebih besar dan bahaya yang lebih besar pada kenyataannya," katanya.

Komentar Sachs keluar ketika ketegangan antara AS dan China terus tumbuh di beberapa bidang, bukan hanya di sektor perdagangan.

Pekan ini Presiden Trump menandatangani undang-undang yang mengesahkan sanksi AS terhadap pejabat China yang bertanggung jawab atas penindasan umat Islam di Provinsi Xinjiang.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Presiden Trump mengatakan dia yakin China  telah mendorong penyebaran virus corona  sebagai cara untuk mengacaukan ekonomi yang tengah bersaing.

AS telah melarang Huawei menggunakan teknologi chip buatan negaranya, tetapi memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk bekerja dengan perusahaan pada standar 5G.

Pemerintahan Trump juga membidik perusahaan-perusahaan China, khususnya raksasa telekomunikasi China Huawei, yang menurut Washington digunakan untuk membantu Beijing memata-matai para pelanggannya. Akan tetapi China menyangkal ini, seperti halnya Huawei.

Akan tetapi, bisa jadi sikap keras Presiden Trump terhadap China dan Huawei  merupakan bagian dari taktik politik untuk menjadikan dirinya terpilih kembali, setidaknya menurut sebuah buku baru yang ditulis oleh mantan Penasihat Keamanan Nasional, John Bolton.

Profesor Sachs juga setuju bahwa la gkah Trump menargetkan Huawei tidak  sekadar masalah keamanan.

"AS kehilangan keuntungan pada 5G, yang merupakan bagian penting dari ekonomi digital baru. Dan Huawei mengambil bagian lebih besar dari pasar global,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top