Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

John Bolton Bongkar Cacat Trump, Presiden AS: Itu Bohong!

Presiden Amerika Serikat Donald Trump angkat bicara soal 'cacat' dirinya yang dibongkar oleh Mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton melalui sebuah buku.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Juni 2020  |  12:35 WIB
Presiden AS Donald Trump berjalan ke Air Force One ketika ia meninggalkan Washington untuk melakukan perjalanan ke KTT G20 di Osaka, Jepang dari Pangkalan Bersama Andrews, Maryland, AS, 26 Juni 2019. - Reuters
Presiden AS Donald Trump berjalan ke Air Force One ketika ia meninggalkan Washington untuk melakukan perjalanan ke KTT G20 di Osaka, Jepang dari Pangkalan Bersama Andrews, Maryland, AS, 26 Juni 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump angkat bicara soal 'cacat' dirinya yang dibongkar oleh mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton melalui sebuah buku.

Melalui akun Twitter pada Kamis (18/6/2020), Presiden ke-45 AS ini menyebut buku itu sebagai “kumpulan kebohongan”.

“Buku Bolton, yang mendapat ulasan mengerikan, adalah kumpulan kebohongan dan karangan cerita, semua dimaksudkan untuk membuat saya terlihat buruk. Banyak pernyataan konyol yang ia kaitkan dengan saya tidak pernah terjadi, fiksi murni,” tulis Trump, dilansir dari Bloomberg.

Sebagian dari isi buku ini telah diulas secara luas oleh outlet media, termasuk Bloomberg News, yang memperoleh salinannya. Secara garis besar, buku tersebut melukiskan gambaran tidak menarik soal Trump sebagai presiden yang didorong oleh kepentingan politiknya sendiri.

Menurut buku itu, Trump berulang kali berupaya untuk ikut campur dalam sistem peradilan AS dengan tujuan mengambil hati para pemimpin negara mulai dari Turki hingga China.

Bolton juga menuliskan Trump mencoba membujuk Presiden China Xi Jinping untuk membeli produk-produk pertanian, yang dikatakan akan membantunya meraih dukungan dari petani menjelang pilpres.

Pemerintahan Trump sendiri telah berupaya menghentikan publikasi “The Room Where It Happened: A White House Memoir” karya Bolton. Buku ini disebut berisi informasi rahasia dan Bolton dikatakan tidak pernah mendapat persetujuan untuk menerbitkannya.

Pada Selasa (16/6/2020), pemerintah AS menggugat Bolton karena pelanggaran kontrak, kemudian menindaklanjutinya pada Rabu (17/6/202) dengan permintaan untuk perintah penahanan dan perintah untuk menghentikan penerbitan buku itu.

Sidang atas pengaduan yang diajukan pemerintah dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6/2020) waktu setempat, sementara buku tersebut akan dirilis pada 23 Juni mendatang.

Bolton sudah pasti tidak tinggal diam. Ia meminta hakim pengadilan federal untuk mengabaikan upaya pemerintahan Presiden Donald Trump menghalangi publikasi buku yang ditulisnya.

Menurut Bolton, langkah itu merupakan upaya "transparan" untuk mencegahnya mengungkapkan fakta-fakta memalukan tentang perilaku Trump di Gedung Putih. Sidang nanti disinyalir akan menjadi perseteruan publik pertama antara tim pembela Bolton dan pemerintah.

“Sulit untuk memahami kata-kata yang lebih erat dengan inti Amandemen Pertama daripada kata-kata tentang tindak-tanduk presiden di kantor,” tulis Bolton dalam dokumen pengajuan di pengadilan federal Washington.

Oleh Bolton, tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS adalah upaya untuk menahan kebebasan berbicara dan membantu Trump mengamankan masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS dalam pemilihan presiden pada November 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

xi jinping pilpres amerika Donald Trump
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top