Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

E-mail Internal Nissan Bocor, Adakah Konspirasi di Balik Kasus Carlon Ghosn?

Sebuah korespondensi e-mail mengenai gerakan eksekutif tinggi Nissan Motor Co. untuk melengserkan Ghosn ditemukan. Hal ini menjadi penguat pernyataan Ghosn bahwa dirinya dijebak dalam kasus ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  10:46 WIB
Mantan Chairman Nissan Motor Carlos Ghosn duduk di dalam mobil ketika ia meninggalkan kantor pengacara setelah dibebaskan dengan jaminan dari Rumah Tahanan Tokyo, di Tokyo, Jepang, 6 Maret 2019. - REUTERS
Mantan Chairman Nissan Motor Carlos Ghosn duduk di dalam mobil ketika ia meninggalkan kantor pengacara setelah dibebaskan dengan jaminan dari Rumah Tahanan Tokyo, di Tokyo, Jepang, 6 Maret 2019. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Mantan bos Nissan, Carlos Ghosn, bersikukuh bahwa dia dijadikan kambing hitam dalam kasus yang melibatkan dirinya dengan perusahaan otomotif terkemuka dunia.

Kini, ada beberapa bukti yang mendukung klaim Ghosn tersebut. Dilansir Bloomberg, sumber yang tidak ingin disebutkan namanya menunjukkan adanya korespondensi e-mail mengenai gerakan eksekutif tinggi Nissan Motor Co. untuk melengserkan Ghosn yang dimulai hampir setahun sebelum penangkapannya pada akhir 2018 karena dugaan pelanggaran keuangan.

Upaya tersebut sebagian dimotivasi oleh oposisi terhadap dorongan Ghosn terhadap integrasi yang lebih besar antara produsen mobil Jepang dan mitra aliansi Renault SA.

Dokumen dan ingatan orang-orang yang mengetahui apa yang terjadi menunjukkan bahwa sekelompok orang dalam melihat penahanan Ghosn sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan produsen mobil global dengan pemegang saham teratas Renault dengan persyaratan yang lebih menguntungkan bagi Nissan.

Rantai korespondensi e-mail sejak Februari 2018 memberikan petunjuk mengenai gerakan terstruktur untuk mendepak Ghosn.

Informasi itu terungkap ketika mantan eksekutif Nissan lainnya dan perusahaan itu sendiri menghadapi pengadilan yang di Tokyo, dan ketika Jepang tengah mengupayakan ekstradisi Ghosn yang melarikan diri ke Libanon tahun lalu.

Khawatir dengan janji Ghosn pada awal 2018 untuk membuat kesepakatan aliansi antar perusahaan tidak dapat diubah, manajer senior di perusahaan mobil Jepang membahas kekhawatiran mereka mengenai bagaimana chairman Nissan dan Renault mengambil langkah menuju konvergensi lebih lanjut, menurut sumber yang mengetahui diskusi pada saat itu.

'Menetralkan’ Inisiatif Ghosn

Salah satu yang terlibat dalam diskusi itu adalah senior vice president Nissan, Hari Nada, yang membuat perjanjian kerja sama dengan jaksa penuntut untuk bersaksi melawan Ghosn.

“Nissan harus bertindak untuk menetralisir inisiatifnya (Ghosn) sebelum terlambat," tulis Nada pada pertengahan 2018 kepada Hitoshi Kawaguchi, seorang manajer senior di Nissan yang bertanggung jawab atas hubungan pemerintah, menurut korespondensi tersebut.

Ghosn mengatakan dia tidak bersalah atas empat tuduhan pelanggaran keuangan dan pelanggaran kepercayaan. Ghosn menolak berkomentar melalui perwakilan mengenai persoalan ini karena dianggap sebagai buronan internasional oleh Jepang

Juru bicara Nissan Lavanya Wadgaonkar juga menolak berkomentar. Nada tidak menanggapi email, sementara Kawaguchi yang meninggalkan Nissan pada bulan Desember juga menolak berkomentar.

Pada 18 November 2018, sehari sebelum Ghosn ditangkap, Nada mengedarkan memo kepada Chief Executive Officer saat itu, Hiroto Saikawa. Nada menyerukan penghentian perjanjian yang mengatur aliansi dan pemulihan hak perusahaan Jepang untuk mengakuisisi saham atau bahkan mengambil alih Renault.

Nissan juga akan berusaha menghapuskan hak produsen mobil Prancis tersebut untuk mencalonkan chief operating officer Nissan atau posisi yang lebih senior lainnya/

“Kepergian Ghosn akan menjadi perubahan fundamental bagi aliansi mobil terbesar di dunia tersebut karena membutuhkan tata kelola baru,” tuls Nada kepada Saikawa menurut korespondensi tersebut.

Komunikasi dari Nada ke Saikawa dan eksekutif senior lainnya menunjukkan keprihatinan yang mendalam tentang rencana Ghosn untuk lebih lanjut mengintegrasikan alians.

Renault telah menyelamatkan pabrikan Jepang dari kebangkrutan dengan suntikan dana darurat pada tahun 1999. Saat itulah pabrikan Prancis mengirim Ghosn ke Nissan, yang melakukan salah satu pekerjaan penyelamatan paling dramatis dalam sejarah industri otomotif.

Namun, setelah dua dekade dan Ghosn membagi waktunya antara kedua perusahaan sebagai CEO Renault dan ketua aliansi, Nissan mulai tersandung masalah.

Nada mengatakan kepada CEO Saikawa pada April 2018 bahwa Ghosn menjadi semakin khawatira mengenai kinerja Nissan dan komentar oleh penggantinya yang dipilih sendiri, yang mengatakan tidak ada keuntungan dalam merger antara Renault dan Nissan.

"Dia dapat membuat gangguan besar dan Anda mungkin menjadi korbannya," Nada menulis kepada Saikawa. Bulan berikutnya, Nissan merilis prospek laba jauh di bawah perkiraan analis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nissan Carlos Ghosn

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top