Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Sentral Eropa Buka Peluang Stimulus Lanjutan

Pejabat bank sentral mengungkapkan ECB sangat fleksibel untuk menjadikan program pembelian darurat pandemi sebagai instrumen marjinal pilihan untuk menghadapi konsekuensi dari krisis
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  16:28 WIB
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu pembuat kebijakan utama Bank Sentral Eropa (ECB) mengisyaratkan bahwa lembaga tersebut sangat mungkin untuk meningkatkan program pembelian obligasi darurat untuk memerangi pandemi virus Corona.

Gubernur Bank of France, Francois Villeroy de Galhau mengatakan, dengan inflasi yang rendah, ada ruang untuk berinovasi dan bertindak dengan cepat dan kuat. Dia juga mengisyaratkan batas yang lebih longgar mencapai 750 miliar euro (US$817 miliar).

"Atas nama mandat kami bahwa kami mungkin akan perlu melangkah lebih jauh. Sangat fleksibel untuk menjadikan program pembelian darurat pandemi sebagai instrumen marginal pilihan kami untuk menghadapi konsekuensi dari krisis," kata Villeroy dalam pidato yang disampaikan melalui tautan web ke Societe d'Economie Politique di Prancis, dilansir Bloomberg, Selasa (26/5/2020).

Pertemuan kebijakan ECB berikutnya adalah 4 Juni dan ekonom semakin memperkirakan bahwa bank sentral akan menggunakan sesi itu untuk menambah lebih banyak stimulus.

"Kita sudah tahu skala stimulus kurang dari yang dibutuhkan. ECB secara signifikan menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB pada 2020 sejak ekspansi pembelian aset terakhir diumumkan pada 18 Maret," kata Ekonom Bloomber David Powell.

Pembelian aset ECB secara teoritis ditentukan berdasarkan ukuran relatif dari masing-masing ekonomi yang berarti Jerman paling banyak membeli. Namun Villeroy menyarankan untuk program pendanaan darurat, hal itu tidak perlu diterapkan.

"Berpegang teguh pada kunci modal untuk menentukan jumlah pembelian masing-masing negara akan menjadi kendala yang tidak dapat diremehkan yang akan merusak efektivitas upaya intervensi kami," kata Villeroy.

Villeroy mengatakan opsi lain yakni beberapa bank sentral nasional membeli lebih banyak utang negara secara signifikan dan yang lain membeli lebih sedikit.

Dalam kasus apa pun, mentransmisikan kebijakan moneter ke anggota berbeda di kawasan euro sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri. Dia mengatakan, ECB tidak akan membiarkan kenaikan biaya pinjaman yang tidak beralasan di beberapa negara.

Namun, Villeroy mengatakan tidak ada alasan saat ini bagi ECB untuk mengubah suku bunga utamanya dan sistem tiering untuk mengurangi dampak suku bunga negatif bagi bank.

Dia mengindikasikan bahwa ECB tidak akan mengikuti langkah Federal Reserve untuk membeli pinjaman bisnis pada bank. Namun, di masa mendatang tidak menutup kemungkinan hal itu akan berlaku. Selain itu, ECB jelas bersedia untuk melampaui target inflasi di bawah 2 persen di masa depan.

"Krisis kesehatan masyarakat dapat memberikan pembenaran untuk rata-rata semacam ini, setidaknya untuk sementara," kata Villeroy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ecb krisis ekonomi stimulus moneter

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top