Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

6 Kunci Percepat Link and Match Pendidikan Vokasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri  

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan ada 6 kunci mempercepat link and match pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri.
Nancy Junita
Nancy Junita - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  08:03 WIB
Ilustrasi pendidikan vokasi. - Istimewa
Ilustrasi pendidikan vokasi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan, vokasi harus terus melakukan inovasi dan terobosan. Meski sebagian besar sudah berkolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi), link and match harus terus ditingkatkan.

“Kami mendorong agar vokasi benar-benar ’menikah’ dengan dunia usaha dan industri. Kurikulum harus kolaborasi, pengajar tamu rutin, ada sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa yang sudah magang, dan penyerapan lulusan harus dilakukan lebih. Jangan pernah puas, selalu perbaiki berinovasi lebih sempurna lagi, harus kita kejar,” ucapnya, Selasa (19/5/2020).

Menurut Wikan, kemampuan berkomunikasi adalah hal yang utama dalam menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

“Industri kalau diajak ngomong  clear  apa yang mereka butuhkan, maka industri akan dengan senang hati mau berhubungan baik dengan kita,” kata Wikan.

“Dudi yang punya mindset bahwa SDM adalah investasi yang sangat strategis dan pondasinya ada di dunia pendidikan, pasti mau bekerja sama.”

“Jika kita bisa buktikan lulusannya sesuai dengan kebutuhan, malah Dudi akan rebutan untuk kerja sama dengan kita bahkan mau membuat prodi khusus yang menjadi kebutuhan. Kuncinya adalah komunikasi, kesepakatan, komitmen, maka akan tercipta kepercayaan trust,” ungkap Wikan.

Direktur Pembinaan SMK M. Bakrun Dahlan sependapat dengan perlunya mendekatkan diri dengan dunia usaha dan industri. Dengan begitu, kata dia, antara kedua belah pihak bisa saling mengenal dan tahu apa yang dibutuhkan.

 “Pertama kita harus tahu kompetensi apa yang diperlukan dunia usaha dan industri. Untuk tahu itu kita harus dekat dengan mereka. Jika kita sudah mendapat jawabannya baru kita kembangkan kurikulumnya. Saat ini kita terus optimalkan link and match antara vokasi dengan Dudi,” jelas Bakrun.

Sejalan dengan konsep yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim  tentang ‘pernikahan massal’ antara vokasi dengan Dudi,

Wikan kembali menjabarkan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempercepat implementasi konsep tersebut.

Pertama, sepakati tujuan, apa yang ingin diciptakan dan ramu mekanismenya bersama-sama.

Kedua, undang tenaga ahli untuk mengajar dalam kerangka kurikulum yang telah disepakati.

Ketiga, susun program magang di Dudi yang konsepnya di desain bersama-sama, evaluasi prosesnya dan terus perbaiki. 

Keempat, beri legalitas kepada peserta yang telah selesai magang berupa sertifikat kompetensi yang disahkan oleh perguruan tinggi dan industri.

“Akan sangat baik jika lulusan magang bisa menghasilkan prototype yang real berbasis masalah yang ditemukan di Dudi,“ imbuh Wikan.

Kelima, dunia usaha dan industri bisa berkontribusi kepada mahasiswa vokasi dengan pemberian beasiswa, ikatan, dinas, maupun sumbangan alat praktik. Alat-alat praktik yang bagus dapat menunjang pembelajaran.

Keenam, libatkan mahasiswa dalam membuat produk inovasi dosen maupun perguruan tinggi, kemudian buat patennya dan produksi secara massal agar lebih berdaya guna bagi masyarakat luas. Ini yang disebut teaching industry.

“Bisa dibayangkan, pernikahan massal ini harus terjadi secara simultan dan tidak berhenti untuk improving,” kata Wikan.

Menambahkan penjelasan Dirjen Vokasi, Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri, Agus Indarjo menyampaikan perlunya sosialisasi dan publikasi yang lebih masif untuk mengenalkan hasil dari berbagai praktik baik dari konsep ‘pernikahan massal’ ini.

Hal ini bertujuan agar menginspirasi banyak orang untuk tidak hanya berminat dengan pendidikan vokasi namun juga bersemangat untuk berkreasi di dunia vokasi. 

“Saat ini promo publikasi sangat minim padahal banyak praktik/program baik yang jarang terekspos. Oleh karena itu kita dorong agar vokasi ditingkatkan mutunya dan jumlah peminatnya. Ini adalah langkah penting dan momentum bagi calon mahasiswa dalam menentukan visinya sebelum mengisi dunia kerja,” pungkas Agus.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dunia usaha vokasi politeknik
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top