Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jusuf Kalla Justru Usul PSBB Diperketat, Bukan Dilonggarkan

Penanganan Covid-19 antara lain bertumpu pada kedisiplinan masyarakat. Hal itu sulit tercapai tanpa adanya sanksi dalam implementasi PSBB yang ketat.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  06:35 WIB
Jusuf Kalla, Ketua Palang Merah Indonesia, menunjukkan sertifikat penghargaan setelah menerima simbolisasi donasi berupa 9.000 unit masker N-95 dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), Kamis (14/5/2020) - Dok./MITSUBISHI
Jusuf Kalla, Ketua Palang Merah Indonesia, menunjukkan sertifikat penghargaan setelah menerima simbolisasi donasi berupa 9.000 unit masker N-95 dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), Kamis (14/5/2020) - Dok./MITSUBISHI

Bisnis.com, JAKARTA – Implementasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ketat dinilai menjadi keharusan dalam upaya mengatasi penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19 di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Muhammad Jusuf Kalla dalam sesi webinar bertajuk 'Segitiga Virus Corona' yang diselenggarakan Universitas Indonesia, Selasa (19/5/2020).

Dia memerinci tiga hal yang disebutnya sebagai Segitiga Virus Corona dan mesti dilakukan secara bersamaan guna mengatasi pandemi yang menjadi objek permasalahan saat ini yakni menghindari, melawan dan mengobati.

Hal pertama, jelasnya, terwujud dalam upaya bersama untuk menghindari wabah ini melalui implementasi PSBB dan kewajiban masyarakat untuk tetap di rumah, mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak. Aspek ini dinilai hanya bertumpu pada kedisiplinan masyarakat.

“Tapi dari pengalaman di mana-mana, termasuk indonesia. disiplin itu perlu ada sanksinya. Kalau hanya imbauan saja, jalanan dan pasar tetap ramai, maka manfaat untuk menghindari itu akan berkurang. Alhasil, masalahnya akan lebih lama,” ujarnya.

Aspek itu, sambung JK, harus berjalan bersamaan dengan dua hal lainnya. Hal kedua yakni melawan terkait dengan upaya intervensi untuk mematikan Covid-19 yang antara lain terwujud dalam penyemprotan disinfektan.

PMI, jelas dia, selama ini sudah turut aktif melakukan itu dan telah menyemprotkan sekitar 1 juta liter disinfektan di berbagai wilayah dengan menggandeng masyarakat dan otoritas daerah. Lembaga ini secara total memiliki 2 juta liter disinfektan yang secara simultan disemprotkan ke berbagai wilayah di Indonesia.

“PMI menjadi contoh. Namun, masyarakat harus tetap digerakkan sebab ini harus terus-menerus dilakukan dengan disiplin dan butuh ongkos besar.”

Aspek ketiga adalah mengobati yang terwujud dalam upaya pihak medis untuk meyembuhkan para pasien yang terpapar. Menurut JK, ketiga langkah itu harus berjalan bersamaan.

Untuk mendukung itu, PSBB yang lebih ketat menjadi syaratnya.

“Dan itulah perbedaan lockdown dan PSBB yakni lockdown ada sanksinya dan PSBB hanya imbauan. Akhirnya terjadi seperti sekarang. Jadi, sebenarnya bukan sedikit [lebih ketat], tetapi [PSBB] harus ketat.”

JK menambahkan penerapan Segitiga Virus Corona secara disiplin akan menyelesaikan pokok permasalahan dalam krisis kesehatan di tengah pandemi. Pemecahan problem itu, jelas dia, akan mempermudah upaya pemerintah untuk mengatasi dampak turunan, termasuk untuk sektor ekonomi dan sosial.

“Jadi, jangan bicara ekonomi saja. Selama [penyebaran pandemi masih terus] begini, ya [ekonomi] begini terus. Jika [berdasar] teori sebab akibat, yang diselesaikan sebabnya, bukan akibatnya,” jelas JK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jusuf kalla Virus Corona covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top