Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos Maskapai India Berminat Selamatkan Virgin Australia

Pemegang saham terbesar maskapai low-cost carrier India, IndiGo, tengah mempertimbangkan mengakuisisi Virgin Australia Holdings Ltd.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  09:28 WIB
Armada Virgin Australia terparkir di Bandara Sydney. - Bloomberg
Armada Virgin Australia terparkir di Bandara Sydney. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pemegang saham terbesar maskapai low-cost carrier India, IndiGo, tengah mempertimbangkan mengakuisisi Virgin Australia Holdings Ltd. untuk menyelamatkan perusahaan dari dampak virus corona.

Dilansir Bloomberg, Rahul Bhatia, yang memiliki Indigo melalui InterGlobe Enterprises Ltd., tengah mengevaluasi data maskapai Australia yang didirikan oleh Richard Branson dan sedang menyiapkan suatu strategi.

IndiGo membantah laporan sebelumnya bahwa perusahaan berencana untuk mengajukan penawaran untuk Virgin Australia. Proposal tersebut sedang disiapkan oleh InterGlobe Enterprises, dan bukan oleh IndiGo.

Virgin Australia telah menarik setidaknya 20 calon pembeli perusahaan menjalani proses restrukturisasi di bawah Deloitte. Deloitte akan memilih tawaran indikatif pada hari Jumat dan tawaran mengikat pada bulan Juni, menargetkan kesepakatan pada akhir bulan itu.

Virgin Australia tumbang terombang-ambing setelah menghentikan hampir semua layanan karena virus dan gagal mendapat bantuan dari pemerintah. Hingga saat ini, maskapai memiliki hutang senilai 6,84 miliar dolar Australia (US$4,5 miliar) kepada lebih dari 10.000 kreditur.

Maskapai tersebut melaporkan tujuh kerugian tahunan berturut-turut sebelumnya. Menurut Australian Financial Review, proposal calon investor asal India tersebut menargetkan agar maskapai kembali beroperasi sebagai maskapai berbiaya rendah dan mencetak laba.

Pada saat penerbangan pertamanya dari Brisbane ke Sydney pada 2000, Virgin hanya memiliki dua pesawat dan satu rute. Di bawah Chief Executive Officer John Borghetti, yang mengambil alih pada 2010, maskapai ini mengubah dirinya menjadi maskapai full service dengan menawarkan kursi kelas bisnis di seluruh jaringan domestiknya.

Perubahan ini berarti membuat perusahaan bersaing dengan Qantas Airways Ltd. Investasi besar diperlukan untuk persaingan ini, dan perang kapasitas dengan Qantas menimbulkan kerugian yang hampir tak ada habisnya.

Pengganti Borghetti, Paul Scurrah, yang mengambil alih posisi CEO pada 2019, berada di tengah rencana perubahan haluan untuk mengurangi utang dan biaya ketika virus corona muncul dan menekan harapan pemulihan.

Sebuah rencana untuk mengoperasikan Virgin sebagai maskapai berbiaya rendah diperkirakan mendapat tantangan di Australia. Strategi semacam itu akan menyerahkan hampir semua pangsa pasar korporasi dan kelas bisnis ke Qantas, yang juga memiliki lini low-cost carrier, Jetstar.

Kepala pengawas kompetisi usaha Australia, Rod Sims, meminta Virgin untuk kembali sebagai maskapai full service. Pemerintah juga mengatakan ingin negara itu memiliki dua maskapai yang bersaing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

maskapai penerbangan virgin australia penerbangan
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top