Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Warga Amerika Lebih Memilih Tinggal di China Saat Wabah Corona

Begitu tiba di AS, dia sangat terkenjut karena tidak banyak protokol kesehatan diterapkan di bandara. Selain itu, dia juga bisa lolos keluar bandara dengan cepat tanpa prosedur tertentu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 Mei 2020  |  14:04 WIB
Kisah Warga Amerika Lebih Memilih Tinggal di China Saat Wabah Corona
Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah pandemi, dunia dipertontonkan pada wajah para pemimpin dan pemerintah dalam melakukan penanganan virus corona atau Covid-19.

Sejauh ini pengalaman banyak negara telah membuktikan bahwa pemerintah yang sigap dan cepat bertindak mengatasi corona, akan keluar dengan segera dari krisis ini. Begitu juga sebaliknya.

Dua kutub yang berlawanan tentang bagaimana pemerintah merespons pandemi ini bisa dilihat dari upaya dua kekuatan terbesar ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China. Meski sama-sama menyandang status negara maju, jalan yang ditempuh pemerintah dua negara itu sangat berlawanan.

Itulah yang tergambar dari cerita seorang ibu berkewarganegaraan AS yang bekerja di Shanghai, China. Dilansir South China Morning Post, wanita ini menceritakan pengalamannya dengan nama anonim.

"Kami [pasangan suami-istri] adalah orang Amerika yang memiliki rumah di Virginia. Beberapa tahun yang lalu saya mendapat pekerjaan di Shanghai, dan kami [ibu dan dua anaknya] pindah ke sana. Suami saya bekerja pulang-pergi dari Virginia ke Washington," katanya, dikutip Minggu (10/5/2020).

Ibu dan dua anaknya itu tengah berlibur di Jepang ketika pandemi mulai merebak dan menyebabkan penutupan fasilitas publik di China, awal Januari 2020.

Ketika sekolah-sekolah di Shanghai ditutup, sang ibu segera memutuskan mengirim anaknya pulang ke AS. Di Bandara Washington, dua anak itu dijemput ayah mereka. Saat itu, belum ada kekhawatiran wabah akan merambah Negeri Paman Sam.

Selain itu, sekolah di AS juga masih buka sehingga dua anak itu bisa melanjutkan belajar sementara, meskipun dia tetap berada di Shanghai karena pekerjaan. Sang ibu memperkirakan dibutuhkan waktu dua bulan berpisah dengan dua anaknya.

Shanghai, China

Warga menggunakan masker saat berjalan melewati toko-toko di Nanjing Road di Shanghai, China, Sabtu (14/3/2020). Bloomberg/Qilai Shen

Benar saja. Pada pertengahan Maret, situasi sudah jauh berbeda. Wabah sudah mulai mereda di China. Sebaliknya, di AS penularan yang masif dan cepat sedang terjadi. Ibu itu mengikuti perkembangan dengan was-was demi anaknya.

Tak lama setelah itu, China resmi membuka lockdown dan menyatakan kurva penyebaran virus telah datar, meski masih harus sangat berhati-hati. Di Amerika, kondisinya justru sangat mengkhawatirkan.

Tanpa pikir panjang, pada 15 Maret 2020, ibu itu segera memesan tiket peswat ke Washington untuk menjemput anaknya kembali ke Shanghai. Lagipula sekolah di Washington akan segera ditutup, sedangkan sekolah di Shanghai baru saja mengirim pengumuman akan membuka kelas dalam waktu dekat.

LEBIH PERCAYA CHINA

Selain itu, mengenai penanganan pandemi, dia mengaku lebih percaya kepada Pemerintah China daripada negaranya sendiri.

Begitu tiba di AS, dia sangat terkenjut karena tidak banyak protokol kesehatan diterapkan di bandara. Selain itu, dia juga bisa lolos keluar bandara dengan cepat tanpa prosedur tertentu. "Saya hanya berada di AS selama 36 jam, tetapi sudah cukup melihat banyak untuk merasa khawatir," ujarnya.

Di jalan-jalan orang masih ramai berkerumun. Begitu juga di restoran, masih terdapat antrean, seperti corona tidak pernah ada.

Singkat cerita, sang ibu dan dua putrinya kembali mendarat di China pada 19 Maret 2020. Berkebalikan dari situasi di bandara di AS, mereka harus menjalani serangkaian prosedur ketat, sebelum diizinkan kembali ke apartemen.

Pekerja bersiap untuk memindahkan jenazah ke dalam trailer di luar Rumah Sakit Pusat Brooklyn di tengah pandemi virus corona di New York, Amerika Serikat, Senin (30/3/2020)./Antara^Reuters

Penerbangan dari Tokyo tiba pukul 11.45 pagi, tetapi ketiganya harus duduk di landasan Bandara Internasional Pudong, Shanghai, selama 2 jam sebelum petugas imigrasi mengizinkan turun. Sambil menunggu, mereka diminta mengisi banyak dokumen kesehatan.

Ketika akhirnya diizinkan turun, mereka masih harus antre menjelang proses imigrasi, 2 jam lamanya. Begitu berhadapan dengan petugas imigrasi, seorang petugas bandara kembali melakukan pemeriksaan, kemudian dokumen diperiksa dengan teliti. Setiap petugas mengenakan pakaian dengan alat pelindung diri yang lengkap.

Lolos dari proses itu, mereka masuk lagi ke antrean selanjutnya untuk mem-fotocopy dokumen kesehatan di mesin foto Xerox yang telah disediakan.

Dokumen itu kemudian ditempeli kertas kuning, yang berarti boleh antre ke tahap selanjutnya, yakni pemeriksaan cepat Covid-19. Proses ini akan menentukan apakah mereka bisa mengkarantina diri sendiri di tempat masing-masing, atau di hotel yang telah ditentukan pemerintah.

Ketiganya lolos dan dinyatakan sehat setelah menjalani tes cepat. Namun, bukan berarti mereka sudah diperbolehkan melenggang pulang. Si ibu dan dua anaknya tidak diperkenankan menggunakan angkutan umum, melainkan naik bus khusus yang telah disediakan pihak bandara.

Selain itu, mereka juga diminta mengunduh aplikasi ponsel untuk melaporkan kondisi kesehatan secara berkala.

TES LANJUTAN

Adapun untuk bisa mengkarantina diri sendiri di rumah, yang bersangkutan harus mendapat izin dari para tetangga melalui otoritas lingkungan. Namun, bukan dibawa ke kediaman masing-masing, para penumpang bus itu dibawa ke sebuah gelanggang olahraga untuk menjalani tes selanjutnya.

Petugas membagikan selimut, susu, dan roti. Di ruang tunggu pemeriksaan juga disediakan tv dengan layanan video on demand. Ibu itu mendapat giliran tes sekitar pukul 20.30, berarti 7 jam sejak mendarat di Shanghai.

Seorang staf menaruh alat uji asam nukleat di pabrik Luoyang Ascend Biotechnology Co., Ltd di Luoyang, Provinsi Henan, China tengah, pada 4 Maret 2020./Xinhua-Li Jianan

Dia pun menjalani tes dimana petugas mengambil cairan mukus yang ada di dalam hidung, dekat tenggorokan. Seusai tes, dalam kekhawatirannya akan dinyatakan positif corona, si ibu mengangumi upaya pencegahan yang dilakukan otoritas China. Sangat ketat dan rapi. Berbeda sekali dengan yang dia alami di bandara AS.

Pukul 02.30 dini hari, terdengarlah pengumuman yang menyatakan seluruh penumpang bus itu negatif corona. Barulah setelah itu mereka diperbolehkan pulang, meski masih ada beberapa dokumen yang harus diisi.

Jam menunjukkan pukul 04.30, ibu dan dua anaknya meninggalkan gelanggang olahraga dan menuju apartemen mereka untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Pukul 09.00 pagi, seorang petugas mengetuk pintu apartemen untuk melakukan pengukuran suhu, begitu pula sore harinya.

"Setelah 14 hari, kami diizinkan keluar rumah. Dokter pun mengirimi surat resmi menyatakan kebebasan kami. Kami sekarang dapat berjalan, tetapi masih harus berhati-hati," katanya menutup cerita itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat shanghai Virus Corona
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top