Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tak Perlu Lockdown, Pengamat Ini Yakin Wabah Corona Berakhir Mei

Ekonom sekaligus pengajar di Universitas Katholik Soegijapranata, Andreas Lako, cukup optimis wabah Virus Corona atau Covid-19 bisa segera berakhir.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  19:35 WIB
Suasana jalan yang gelap dan sepi di Jalan Diponegoro, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (27/3/2020) malam. Pemadaman seluruh lampu jalan kota dan Alun-alun Kota Tegal oleh Pemerintah Kota Tegal sejak lima hari lalu hingga waktu yang belum ditentukan tersebut untuk mencegah adanya kerumunan massa di jalan antisipasi penyebaran COVID-19. - ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Suasana jalan yang gelap dan sepi di Jalan Diponegoro, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (27/3/2020) malam. Pemadaman seluruh lampu jalan kota dan Alun-alun Kota Tegal oleh Pemerintah Kota Tegal sejak lima hari lalu hingga waktu yang belum ditentukan tersebut untuk mencegah adanya kerumunan massa di jalan antisipasi penyebaran COVID-19. - ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Bisnis.com, SEMARANG - Ekonom sekaligus pengajar di Universitas Katholik Soegijapranata, Andreas Lako, cukup optimis wabah Virus Corona atau Covid-19 bisa segera berakhir.

Lako menjelaskan baru-baru ini, Profesor Michael Levitt, seorang ahli Biofisika dari Stanford University (Pemenang Nobel Tahun 2013) memprediksi bahwa negara-negara yang sedang terkena wabah Covid-19 akan segera mereda.

Levitt juga menegaskan bahwa lockdown adalah suatu tindakan yang tak perlu dilakukan karena justru akan menimbulkan kekalutan masyarakat dan membahayakan kesehatan masyarakat akibat terputusnya pasokan mata rantai ekonomi.

"Saya yakin prediksi Levitt itu benar. Prediksinya tentang jumlah masyarakat yang terpapar dan meninggal akibat Corona di Wuhan, pada Desember 2019 ternyata tepat. Presisi keakuratannya sangat tinggi skitar 99%," kata Lako, Senin (30/3/2020).

Selain pernyataan Levitt, keyakinan Lako juga mempertimbangkan beberapa aspek lainnya. Pertama, wabah Covid-19 sesungguhnya sudah terjadi di Indonesia mulai awal Februari 2020 sehingga puncak paparannya sudah terjadi pada pertengahan Maret 2020.

Kedua, pemerintah juga akan mengambil tindakan tegas dalam melarang arus mudik dan arus balik Lebaran. Ketiga, pemerintah akan memberlakukan social distance secara lebih ketat lagi.

Adapun berdasarkan hasil analisisnya, Andreas memprediksikan bahwa wabah Covid-19 di Indonesia akan segera mereda pada minggu pertama hingga kedua April 2020. Persentase jumlah masyarakat yang terpapar Covid- 19 pun akan menurun cukup signifikan pada Minggu kedua April hingga awal Mei 2020.

"Hasil analisis saya terhadap prosentase jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19 sesungguhnya menunjukkan tren yang mulai menurun sejak minggu ketiga Maret hingga tanggal 29 Maret," jelasnya.

Apabila pola penurunan itu semakin stabil hingga awal April 2020, maka bisa diprediksi bahwa sangat mungkin pada akhir Mei 2020, DKI Jakarta dan sejumlah provinsi zona merah Covid, serta Indonesia umumnya akan pulih dari wabah Covid. Geliat ekonomi dan aktivitas masyarakat bisa pulih kembali.

"Karena itu, lockdown provinsi atau karantina wilayah secara ketat seharusnya tidak perlu diberlakukan karena risiko dan akibatnya sangat serius," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng Virus Corona covid-19 Lockdown
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top