Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mutasi Virus Corona di Luar China Lebih Mematikan

Ilmuwan menemukan bahwa tulang punggung dari virus corona baru berbeda secara substansial dari virus corona yang sudah dikenal.
Jafar Sodiq Assegaf
Jafar Sodiq Assegaf - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  06:55 WIB
Dokter patologi klinik memeriksa sampel media pembawa virus Corona untuk penelitian di Laboratorium Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya di Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (6/2/2020). - Antara/Umarul Faruq
Dokter patologi klinik memeriksa sampel media pembawa virus Corona untuk penelitian di Laboratorium Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya di Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (6/2/2020). - Antara/Umarul Faruq

Bisnis.com, SOLO – Virus corona bermutasi secara ilmiah dan membentuk struktur molekul yang lebih cepat membunuh. Para ilmuwan menemukan bahwa protein lonjakan telah berevolusi untuk secara efektif menargetkan fitur di luar sel manusia.

“Protein lonjakan sangat efektif untuk mengikat sel manusia, pada kenyataannya, para ilmuwan menyimpulkan itu adalah hasil seleksi alam dan bukan produk rekayasa genetika. Bahkan struktur molekul virus ini terus berubah, terlihat struktur di luar China lebih menakutkan,” tutur Andersen seperti dilansir dari The Sun.

Bukti evolusi alami ini didukung oleh data pada tulang punggung serangga, keseluruhan struktur molekulnya.

Para ilmuwan menemukan bahwa tulang punggung dari virus corona baru berbeda secara substansial dari virus corona yang sudah dikenal dan sebagian besar menyerupai virus terkait yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling.

“Kedua fitur virus ini, mutasi pada bagian RBD dari protein lonjakan dan tulang punggung yang berbeda, mengesampingkan manipulasi laboratorium sebagai potensi asal untuk SARS-CoV-2,” tambah Andersen.

Ahli biologi molekuler Richard Ebright dari Rutgers University, Piscataway, mengungkapkan kekhawatiran tentang infeksi yang tidak disengaja. Diperhatikannya berulang kali terjadi dengan pekerja laboratorium yang menangani SARS di Beijing.

Ebright seorang ilmuwan yang memiliki sejarah panjang mengibarkan bendera merah tentang studi patogen berbahaya. Bahkan dia pada 2015 mengkritik percobaan di mana modifikasi dibuat untuk virus mirip SARS yang beredar di kelelawar China.

Percobaan ini untuk melihat apakah itu berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iptek Virus Corona

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top