Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona, Italia Salip China Catat Angka Kematian Terbesar di Dunia

Italia akhirnya menyalip China sebagai negara dengan catatan angka kematian tertinggi akibat wabah penyakit virus corona (Covid-19).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  06:01 WIB
Tenaga medis bekerja di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi
Tenaga medis bekerja di tenda dan bangunan darurat yang dibuat untuk membantu sistem perawatan kesehatan di kawasan rumah sakit di Brescia, Italia, Jumat (13/3/2020). Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Italia cukup signifikan dengan pertumbuhan jumlah kematian pasien yang mencapai 14 persen. Bloomberg - Francesca Volpi

Bisnis.com, JAKARTA – Italia akhirnya menyalip China sebagai negara dengan catatan angka kematian tertinggi akibat wabah penyakit virus corona (Covid-19).

Menurut data worldometers, total jumlah korban jiwa di Italia mencapai 3.405 orang hingga Kamis (19/3/2020) atau bertambah 427 orang dari laporan sebelumnya.

Sementara itu, angka kematian di China, tempat wabah corona bermula, hingga Kamis tercatat sebanyak 3.245 sejak wabah ini pertama kali mengemuka di kota Wuhan pada akhir Desember 2019.

Seluruh rumah sakit di Italia sampai kewalahan dan pemerintah negara itu telah memberlakukan lockdown secara nasional sejak awal bulan ini dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus.

Terlepas dari dampak langkah-langkah pengendalian terhadap ekonomi, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengatakan pada Kamis (19/3/2020) bahwa ia akan memperpanjang periode lockdown hingga melampaui batas waktu 25 Maret.

Sekolah-sekolah, yang telah dijadwalkan untuk kembali beraktivitas pada 3 April, akan tetap ditutup lebih lama dari yang direncanakan semula. Total, terdapat 41.035 kasus corona di Italia sejauh ini termasuk 4.440 yang telah pulih dari penyakit tersebut.

Namun, jumlah korban tewas juga bertambah lebih deras di negara-negara lain di Eropa. Di Spanyol, angka kematian melonjak 28 persen menjadi 767, sementara Prancis melaporkan peningkatan 41 persen menjadi 372, seperti dikutip Bloomberg.

Para menteri dan pembuat kebijakan di benua Eropa pun meningkatkan upaya mereka untuk melawan wabah ini serta mengurangi dampak buruknya terhadap masyarakat dan ekonomi.

Inggris dan Yunani merupakan beberapa di antara negara yang mengumumkan langkah finansial baru, sementara Prancis mendesak para pekerja untuk menjaga persediaan makanan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong para warga untuk mencapai keseimbangan antara tinggal di dalam rumah mereka dan menjaga perekonomian negara tetap berjalan ketika wabah ini membebani negeri tersebut.

Prancis menghadapi kekurangan personel di beberapa area karena banyak pekerja yang waspada atas penularan corona menghindari tempat-tempat kerja mereka.

“Sebagian dari populasi tidak bertanggung jawab karena tidak mempertimbangkan panduan untuk menahan diri dengan berpesta di jalanan dan pergi ke pantai,” ujar Macron.

“Namun, yang lain bereaksi berlebihan atas imbauan untuk tinggal di dalam rumah, dengan beberapa pekerja yang vital tidak pergi ke tempat kerja. Kita perlu menemukan jalan tengah,” terangnya kepada awak media di Paris pada Kamis (19/3).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Italia Virus Corona
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top