Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Trump Tak Akan Cabut Sanksi Sebelum Bernegosiasi dengan Iran

Hubungan AS-Iran kembali memanas sejak AS keluar dari perjanjian nuklir damai pada 2018.
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019)./Reuters-Leah Millis
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan UU Otoritas Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2020 di Pangkalan Militer Gabungan (Joint Base) Andrews, Maryland, AS, Jumat (20/12/2019)./Reuters-Leah Millis

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan mencabut sanksi atas Iran hanya untuk bernegosiasi dengan negara tersebut.

"Menteri Luar Negeri Iran mengatakan mereka ingin bernegosiasi dengan AS, tapi ingin sanksi dicabut. @FoxNews @OANN Tidak Terima kasih!" ujar Trump melalui akun Twitter resminya, Sabtu (25/1/2020) waktu AS.

Cuitannya ini, yang juga disampaikan dalam bahasa Farsi, kemungkinan merupakan respons atas wawancara Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Mohammad Javad Zarif dengan Der Spiegel, yang diterbitkan pada Jumat (24/1). Dalam wawancara itu, seperti dilansir Reuters, dia menyatakan Iran masih terbuka untuk negosiasi dengan AS jika sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh Washington ditarik kembali.

"@realdonaldtrump lebih baik dinasihati kembali agar menyampaikan komentar terkait kebijakan luar negeri sesuai dengan fakta, dibandingkan bergantung pada headline @FoxNews atau penerjemah bahasa Farsinya," tukas Zarif dalam cuitan balasan, sembari menunjukkan sebagian inti wawancaranya.

Ketegangan hubungan AS-Iran kembali meningkat ke level tertinggi dalam 10 tahun terakhir setelah militer AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani, pejabat tinggi militer Iran, dalam sebuah serangan drone di Baghdad, Irak pada 3 Januari 2020. Beberapa hari kemudian, Iran balik menyerang basis militer AS di Irak.

Keluarnya AS dari perjanjian nuklir damai dengan Iran dan negara-negara adidaya lainnya pada 2018, juga berpengaruh terhadap hubungan kedua negara.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Annisa Margrit
Editor : Annisa Margrit
Sumber : Reuters
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper