Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dilema Pemerintah Bebaskan Lima WNI dari Abu Sayyaf

Pemerintah dinilai menghadapi situasi dilematis dalam upaya penyelamatan lima Warga Negara Indonesia yang kembali disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf pekan lalu.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  07:56 WIB
Kelompok militan Abu Sayyaf - Reuters
Kelompok militan Abu Sayyaf - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai menghadapi situasi dilematis dalam upaya penyelamatan lima Warga Negara Indonesia yang kembali disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf pekan lalu. 

Setelah membebaskan tiga orang nelayan asal Indonesia beberapa waktu lalu, perompak tersebut kembali mengincar WNI yang menjadi nelayan di Malaysia. 

Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil mengatakan posisi Indonesia memang tengah menghadapi dilema. Satu sisi, apabila pemerintah melakukan pendekatan militer maka akan berisiko pada kondisi tersandera. Akan tetapi, jika menggunakan diplomasi dan tebusan, maka akan berdampak tidak baik bagi Indonesia. 

“Jika kita gunakan pendekatan militer resikonya sandera bisa berpotensi kehilangan nyawa. Jika menggunakan diplomasi dan tebusan, berarti kita mengakui kehebatan penjahat yang menyandera WNI kita,” katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020).

Nasir tak mengetahui berapa uang yang telah digelontorkan pemerintah untuk pembebasan para WNI. Namun, pemerintah perlu melakukan sejumlah cara untuk mencegah kejadian serupa terus terulang seperti memperkuat armada keamanan laut.

“Saya tidak tahu persis berapa rupiah yang selama ini digelontorkan untuk menebus WNI yang disandera oleh kelompok penjahat seperti Abu Sayyaf cs,” terangnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut pihaknya masih mencari langkah strategis untuk menghindari kejadian serupa kembali terulang. 

“Iya kita masih bicarakanlah langkah-langkahnya karena kita ingin menyelesaikan bukan sekadar membebaskan yang lima itu, karena sudah terjadi berkali-kali kan,” katanya, Selasa (21/1/2020).

Adapun Kementerian Luar Negeri juga telah melakukan komunikasi dengan Filipina dan Malaysia. Namun ketiga negara juga masih mencari solusi penyelesaian jangka panjang.

“Mungkin ada operasi bersama, mungkin  patroli bersama, ada penyergapan bersama bisa macam-macam lah itu,” terangnya.

Lima WNI yang menjadi nelayan untuk kapal Malaysia diculik di perairan Sabah, Malaysia. Penculikan itu hanya berselang beberapa hari setelah sebelumnya satu orang sandera yang juga warga Indonesia berhasil dibebaskan oleh kelompok Abu Sayyaf.  

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wni Abu Sayyaf
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top