Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ABK WNI di Kapal Malaysia Diminta Waspadai Kelompok Abu Sayyaf

Aspek pencegahan juga akan dilakukan dengan meningkatkan pengamanan di perairan Sabah oleh otoritas Malaysia dan kerja sama dengan otoritas Filipina.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 05 April 2021  |  13:59 WIB
MK, laki-laki berusia 14 tahun (di tengah) merupakan WNI terakhir yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf (ASG) akhirnya dapat dibebaskan kemarin, Minggu (21/3/2021), melalui operasi gabungan Aparat Keamanan Filipina di Pulau Kalupag - Dok./Kementerian Luar Negeri
MK, laki-laki berusia 14 tahun (di tengah) merupakan WNI terakhir yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf (ASG) akhirnya dapat dibebaskan kemarin, Minggu (21/3/2021), melalui operasi gabungan Aparat Keamanan Filipina di Pulau Kalupag - Dok./Kementerian Luar Negeri

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengingatkan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal penangkap ikan milik Malaysia agar mewaspadai aksi penculikan oleh kelompok militan Abu Sayyaf yang telah berulang kali terjadi di perairan Sabah, Malaysia.

Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat seremoni penyerahan empat orang bekas sandera Abu Sayyaf yakni Arsyad, Arizal, Riswanto, dan Kairudin kepada keluarga di kantor Kementerian Luar Negeri, Senin (5/4/2021).

Retno menegaskan bahwa aspek pencegahan akan dilakukan antara lain dengan meningkatkan pengamanan di perairan Sabah oleh otoritas Malaysia dan kerja sama dengan otoritas Filipina. Pasalnya, mayoritas penculikan terjadi di lokasi yang sama.

“Selain itu kehati-hatian nelayan kita yang bekerja di kapal ikan Malaysia juga penting untuk terus ditingkatkan. Kita juga akan melakukan komunikasi yang lebih intensif kepada pemilik kapal di Malaysia,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Judha Nugraha menjelaskan bahwa kondisi saat penyanderaan layaknya bertahan antara hidup dan mati karena mereka harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan ketersediaan makanan yang sangat terbatas.

“Kita harapkan ini adalah kasus yang terakhir. Enough is enough,” tandasnya.

Dia memperingatkan kepada seluruh ABK WNI yang bekerja di kapal Malaysia agar tidak memaksakan diri mencari ikan di wilayah yang sudah ditetapkan sebagai wilayah yang berbahaya.

Kelompok Abu Sayyaf merupakan salah satu cabang militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIL atau ISIS) yang berada di Filipina, terutama di sekitar Jolo, Basilan, dan Mindanao.

Sejak 2016, Kemenlu mencatta terdapat 44 warga negara Indonesia (WNI) yang diculik oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Dengan pembebasan empat orang belum lama ini, seluruh WNI telah bebas.

Empat orang terakhir tersebut merupakan anak buah kapal (ABK) Malaysia yang diculik saat melaut di perairan Tambisan, Sabah pada 16 Januari 2020. Dengan kata lain, keempat orang tersebut telah disandera oleh Kelompok Abu Sayyaf selama 427 hari atau lebih dari 1 tahun 3 bulan.

Keberhasilan memulangkan empat ABK WNI berkat kerja sama antara TNI, Badan Intelijen Negara (BIN), dan juga Pemerintah Filipina, yaitu melalui Western Mindanao Command (Westmincom) yang telah membantu dalam proses pembebasan sandera.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

malaysia kemenlu filipina Abu Sayyaf
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top