Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ghosn Ingatkan Aliansi Renault-Nissan Berada di Posisi Tak Aman

Berdasarkan laporan dari Financial Times, mengutip seorang sumber yang tidak disebutkan namanya, para eksekutif di Nissan Motor Co. tengah menyiapkan sebuah rencana darurat yang akan memicu pecah kongsi dengan rekannya, Renault SA.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  16:44 WIB
Sebuah van membawa mantan Chairman Nissan Carlos Ghosn, Kamis (4/4/2019).  - REUTERS
Sebuah van membawa mantan Chairman Nissan Carlos Ghosn, Kamis (4/4/2019). - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA - Aliansi produsen mobil terbesar di dunia kembali dihadapi dengan tantangan terbesarnya, pascapenangkapan Carlos Ghosn yang mengancam dapat membubarkan kerja sama yang dia bina sejak hampir 2 dekade lalu.

Berdasarkan laporan dari Financial Times, mengutip seorang sumber yang tidak disebutkan namanya, para eksekutif di Nissan Motor Co. tengah menyiapkan sebuah rencana darurat yang akan memicu pecah kongsi dengan rekannya, Renault SA.

"Chairman Renault Jean-Dominique Senard, yang akan mengumumkan beberapa proyek gabungan untuk aliansi ini dalam beberapa pekan mendatang ragu tentang ketahanan aliansi ini sejak dia menggantikan Ghosn tahun lalu," tulis FT, dikutip melalui Bloomberg, Senin (13/1/2020).

Menurut beberapa orang yang dekat dengan manajemen Nissan, CEO Nissan yang baru ditunjuk, Makoto Uchida, telah bekerja sama dengan Senard dalam proyek-proyek baru ini.

Akan tetapi bahkan selama era Ghosn, beberapa insinyur tidak senang dengan dorongan eksekutif untuk menggabungkan unit teknik dan manufaktur.

Laporan FT juga menyebutkan bahwa kedua pembuat mobil kemungkinan akan mencari mitra baru jika terjadi perpecahan kongsi.

Bahkan sebelum kabar ini beredar, mantan bos Renault yang sekarang buron, Carlos Ghosn, mengatakan bahwa aliansi Nissan-Renault berada di ambang keruntuhan.

"Apa yang kita lihat hari ini adalah aliansi, yang secara jelas, dengan semua orang yang terlibat, tidak akan bergerak ke mana pun," kata Ghosn pada konferensi pers di Beirut pada Rabu (8/1/2020) setelah melarikan diri dari tuduhan kejahatan keuangan di Jepang.

Memburuknya hubungan antara Renault dan Nissan setelah penangkapan Ghosn telah mempengaruhi kinerja saham mereka.

Saham pembuat mobil Prancis itu diperdagangkan mendekati level terendah selama 7 tahun terakhir, sedangkan Nissan berada pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam 1 dekade.

Pelemahan penjualan di industri otomotif serta kegagalan merger Renault dengan Fiat Chrysler turut mempengaruhi performa saham.

"Kolusi antara Nissan dan jaksa terjadi di mana-mana. Mereka yang tidak menyadari hal ini hanya orang-orang di Jepang. Bagaimana bisa hal ini legal," tutur Ghosn.

Dengan kebebasannya untuk berbicara di publik, pria 65 tahun itu berusaha untuk menyelamatkan warisannya setelah menyelamatkan Nissan dari keterpurukan pada 20 tahun lalu.

Akar dari ketegangan antara Nissan dan Renault adalah struktur kepemilikan yang tidak seimbang, di mana Renault memegang 43% saham Nissan tetapi perusahaan yang berbasis di Yokohama itu hanya memiliki 15% saham Renault.

Mengingat ukurannya yang lebih besar dan kinerja pendapatan yang superior dalam beberapa tahun terakhir, Nissan telah berusaha lebih giat dalam aliansi ini, termasuk dengan pengurangan kepemilikan saham Renault.

Untuk mengembalikan kepercayaan, kedua perusahaan telah melakukan perubahan dalam manajemen eksekutif.

Nissan mengganti pejabat untuk mengisi posisi CEO dan Renault telah memulai pencarian baru untuk posisi eksekutif utama setelah menggulingkan Thierry Bollore, mantan anak didik Ghosn.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Carlos Ghosn
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top