Tsunami Aceh, Merawat Ingatan Menghilangkan Trauma

Fuadi Mardhatillah tak sempat berpikir panjang. Pria itu lari terbirit-birit saat melihat gelombang hitam setinggi 10 meter mendekat. Bencana itu belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan sejak dalam pikiran.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 11 Januari 2020  |  12:45 WIB
Tsunami Aceh, Merawat Ingatan Menghilangkan Trauma
Monumen Aceh - Jibi/Sukirno

Bisnis.com, JAKARTA - Fuadi Mardhatillah tak sempat berpikir panjang. Pria itu lari terbirit-birit saat melihat gelombang hitam setinggi 10 meter mendekat. Bencana itu belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan sejak dalam pikiran.

Pagi itu, 26 Desember 2004 atau 15 tahun silam. Gempa bermagnitudo 9,1 mengguncang daratan Aceh. Rumah yang ditinggalinya bersama keluarga turut terimbas.

Penghuni rumah riuh. Seisi rumah sempat panik. Aquarium kesayangan ayahnya sampai pecah. Bahkan api kompor gas di sisi dapur membumbung tinggi. Tak biasanya Aceh dirundung gempa.

Lindu itu cukup mengagetkan. Belum pernah Aceh dilanda gempa sekuat itu. Sejumlah bangunan runtuh, bahkan bangunan bertingkat dua. Untungnya, rumah Fuadi masih kokoh walau seisi rumah jadi berantakan.

Pascagempa, warga desa riuh. Jejeran bangunan rumah toko (ruko) sekitar 200 meter dari rumah Fuadi roboh. Fuadi ikut melihat bersama adiknya. Ini dilakukan atas ajakan teman-teman sekolahnya.

Masih melongo mendapati bangunan roboh, tetiba suara gemuruh datang dari arah laut. Perlahan teriakan orang-orang mulai terdengar.

“Orang-orang berteriak air naik, air naik,” tutur Fuadi kepada Bisnis, akhir Desember lalu.

Kalimat ‘air naik’ tak sempat dicerna dengan baik. Pikirnya cuma gelombang pasang biasa. Tapi anggapan Fuadi salah. Selang beberapa saat, gelombang besar mulai terlihat dari kejauhan.

Gemuruh air kian terdengar, ledakan demi ledakan tercipta. Suara bangunan yang dihantam air bah setinggi 10 meter itu terdengar makin jelas.

Gelombang setinggi tiang listrik belum pernah dilihat sebelumnya. Satu yang diketahui Fuadi adalah segera menyelamatkan diri. Bersama adiknya, pria itu berlari hingga ratusan meter menjauh dari tsunami.

Fuadi lari tergopoh-gopoh. Tak tahu arah. Hanya berusaha menjauhi air.

Di tengah penyelamatan diri, sebuah mobil patroli Polisi menghampiri untuk ditumpangi. Fuadi dan adiknya naik ke mobil Polisi. Tapi gelombang hitam kian dekat.

“Air tsunami sampai menyentuh ban mobil,” kenang Fuadi.

Ini situasi paling menegangkan. Di tengah kepanikan, Fuadi tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa merapal doa dan berharap mobil cepat melaju. Beruntung, keduanya bersama sejumlah warga lain di mobil itu selamat. Padahal maut sudah di depan mata.

“Kami dibawa ke Polsek Lamlagang, Banda Aceh. di situ kami tak tahu bagaimana kondisi keluarga,” ujarnya

***

Fuadi bersama keluarga tinggal di Gampong (Desa) Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Letaknya hanya terpaut 2 - 3 kilometer dari bibir pantai atau berjarak sekitar 4 kilometer dari Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Daerah itu nyaris tak bersisa usai dihantam tsunami.

Saat peristiwa itu Fuadi sempat terpisah dengan keluarga. Hanya berdua dengan sang adik. Kabar ayah, ibu, dan kakaknya tak bermuara hingga tiga hari pascabencana. Bahkan, kakak beradik itu juga sempat terpisah.

Pada hari ketiga Fuadi dibawa ke Kota Sigli, Kabupaten Pidie, sekitar 100 km dari Ibu Kota Banda Aceh. Sementara, adiknya dibawa ke Seulawah, sekitar setengah dari jarak Banda Aceh - Sigli. Entah apa tujuan yang membawa. Sehari kemudian, mereka dibawa kembali ke Banda Aceh.

“Kami dibawa ke Posko TVRI Mata Ie, di situ kami bertemu dengan orang tua dan kakak,” kenang Fuadi.

Mata Ie adalah sebuah gampong atau desa di Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Lokasinya berada sekitar 5 kilometer dari rumah Fuadi yang rusak diterjang tsunami.

Walau selamat, Fuadi menyimpan rasa trauma usai bencana. Beberapa waktu, dia tak mau melihat laut. Trauma itu mengakar seiring dengan kondisi kamp pengungsian yang tak kondusif.

Selama setahun lebih dia dan korban selamat lain hidup "berdampingan" dengan mayat-mayat korban tsunami. Beberapa bulan pascamusibah itu, mayat-mayat masih mudah ditemukan di sejumlah daerah terdampak.

Apalagi selama di kamp pengungsian acap kali Fuadi mendengar teriakan dan tangisan sesama pengungsi. Mereka belum juga melupakan peristiwa mengerikan itu. Kondisi ini terus terjadi beberapa waktu meski bencana telah usai.

“Saat bersih-bersih di rumah, kami bahkan menemukan lima mayat. Bayangkan, kami makan dengan kondisi mayat berada di dekat,” kenang Fuadi.

***

Beda cerita dengan Muhammad Qasthari Ersa. Wajahnya kebingungan saat melihat seorang pria dengan tubuh penuh luka mendekat. Tanpa pakaian, pria itu hanya menutup diri menggunakan kain sprei.

“Air naik, air laut naik,” kata pria itu terisak kapadanya. Akan tetapi, pria yang disapa Ari ini masih terheran. Bagaimana mungkin air laut naik ke daratan secara tiba-tiba, pikirnya. Hujan pun tidak.

Belakangan, dia tahu bahwa tak hanya guncangan lindu yang dialami kota itu. Gelombang besar bernama tsunami turut melanda. Jarak dirinya dengan air bah mahadasyat itu hanya sekitar 1 km.

Ari beruntung tak melihat langsung gelombang tsunami. Tak biasa, hari itu dia menginap di rumah tantenya di Gampong Geuce Iniem, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh.

Padahal selama di Banda Aceh, Ari menetap bersama keluarga pamannya di Gampong Punge Ujong, Kecamatan Jaya Baru. Desa ini hanya berjarak 1 km dengan pantai Ulee Lheue. Dari empat orang tinggal di rumah itu, hanya pamannya yang selamat dilanda tsunami.

Meski tak menimbulkan trauma, tsunami menjadi renungan bagi Ari. Menurut dia, bencana itu merupakan refleksi diri bahwa tidak ada yang mengetahui bagaimana cara seseorang menghadapi mati.

“Itu menjadi refleksi diri dari mati enggak ada yang tahu. Bencana bisa datang kapan saja,” sebutnya.

Sedikitnya 167.000 orang meninggal atau hilang pada peristiwa gempa dan tsunami Aceh. 3.000 kilometer jalan hancur, 120 jembatan rusak, dan 500.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Bencana ini turut terjadi di sejumlah negara seperti India, Sri Lanka, Burma dan negara lain hingga ke sebagian Afrika.

Usai Bencana, dana Rp11,2 triliun diberikan puluhan negara asing untuk Aceh melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh - Nias.

Biaya ini belum termasuk bantuan medis, militer, dan relawan untuk bantuan pemulihan trauma masyarakat. Pemerintah Indonesia juga menyalurkan bantuan senilai Rp8 triliun lebih pada tahun anggaran 2005.

Kini Aceh terus bebenah, melupakan keterpurukan dan meningkatkan kesadaran mitigasi bencana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tsunami aceh

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top