AS Ingin "Bersalaman" dengan Rusia di Libya

Amerika Serikat memberi sinyal ingin bekerja sama dengan Rusia untuk mengakhiri konflik di Libya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 12 Desember 2019  |  12:21 WIB
AS Ingin
Tentara Nasional Libya di bawah pimpinan Jendral Khalifa Haftar terlihat meninggalkan Benghazi pada hari Minggu 7 April 2019 untuk bergabung dengan pasukan lainnya guna menggempur Tripoli. - Reuters/Esam Omran Al Fetori

Bisnis.com, WASHINGTON - Amerika Serikat memberi sinyal ingin bekerja sama dengan Rusia untuk mengakhiri konflik di Libya.

Sinyal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Rabu waktu setempat. Meski begitu, Pompeo dia mengingatkan Menlu Rusia Sergei Lavrov terkait embargo senjata di negara yang berada di Afrika Utara tersebut.

Berbicara pada konferensi pers di Departemen Luar Negeri AS, Pompeo mengatakan tidak mungkin ada solusi militer untuk pertempuran itu dan bahwa Washington telah memperingatkan negara-negara agar tidak mengirim senjata ke Libya.

"Kami ingin bekerja dengan Rusia untuk mencapai meja perundingan, melakukan serangkaian percakapan yang pada akhirnya mengarah pada disposisi yang menciptakan apa yang coba dilakukan oleh PBB," kata Pompeo.

"Menteri Luar Negeri Lavrov mengatakan langsung kepada saya kemarin bahwa dia siap menjadi bagian dari itu, untuk melanjutkannya. Saya mengingatkan dia bahwa ada embargo senjata yang masih ada di Libya, dan bahwa tidak ada negara yang harus menyediakan bahan tambahan secara bertahap di Libya, "kata Pompeo.

Libya telah terbagi sejak 2014 menjadi kamp-kamp militer dan politik yang saling bersaing dengan basis di ibu kota Tripoli dan kawasan timur. Pemerintahan Fayez al-Serraj berkonflik dengan pasukan yang dipimpin Khalifa Haftar yang berbasis di Libya timur.

Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar telah berusaha sejak April untuk merebut Tripoli. Ia didukung oleh Mesir, Uni Emirat Arab, dan sebagian besar tentara bayaran Rusia, menurut para diplomat dan pejabat Tripoli. LNA menyangkal memiliki dukungan asing.

Presiden AS Donald Trump menelepon Haftar pada minggu-minggu pertama serangan, dalam suatu langkah yang diambil oleh beberapa diplomat sebagai tanda bahwa Washington mungkin mendukung mantan perwira Gaddafi. Namun Amerika Serikat bulan lalu meminta LNA untuk mengakhiri ofensifnya di Tripoli. Hal itu juga memperingatkan soal campur tangan Rusia.

"Kami telah menjangkau tidak hanya orang Rusia tetapi juga orang lain yang menyediakan sistem senjata di sana dan mengatakan itu bukan untuk kepentingan terbaik," kata Pompeo.

Para diplomat mengatakan Turki telah memasok drone dan truk untuk pasukan sekutu Serraj, sementara LNA telah menerima dukungan dari Uni Emirat Arab dan Mesir.

Dua minggu lalu pemerintah Libya dan Turki menandatangani perjanjian keamanan dan militer yang diperluas, dan sebuah memorandum tentang batas-batas laut. Langkah tersebut membuat marah Yunani dan memicu negara itu mengusir duta besar Libya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, rusia, libya

Sumber : Antara

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top