Terancam Usang, Menlu AS Pompeo: NATO Perlu Berubah

“Tujuh puluh tahun NATO sekarang, perlu tumbuh dan berubah. Itu diperlukan untuk menghadapi kenyataan hari ini dan tantangan hari ini, ”kata Pompeo usai memberikan pidato di acara peringatan 30 tahun jatuhnya Tembok Berlin, Jerman, dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2019).
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 08 November 2019  |  19:49 WIB
Terancam Usang, Menlu AS Pompeo: NATO Perlu Berubah
Michael Richard Pompeo - Twitter @SecPompeo

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) perlu tumbuh dan berubah. Jika tidak, aliansi pertahanan tersebut terancam usang.

“Tujuh puluh tahun NATO sekarang, perlu tumbuh dan berubah. Itu diperlukan untuk menghadapi kenyataan hari ini dan tantangan hari ini, ”kata Pompeo usai memberikan pidato di acara peringatan 30 tahun jatuhnya Tembok Berlin, Jerman, dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2019).

"Jika negara-negara percaya bahwa mereka bisa mendapatkan manfaat keamanan tanpa menyediakan sumber daya yang diperlukan NATO, jika mereka tidak memenuhi komitmen mereka, ada risiko bahwa NATO bisa menjadi tidak efektif atau usang," katanya menambahkan.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan negara-negara Eropa bahwa NATO tengah mengalami 'mati otak', menekankan kurangnya koordinasi dan ketidakpastian AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dalam wawancara dengan majalah mingguan Inggris, The Economist, Macron mengatakan bahwa di satu sisi terdapat kurangnya koordinasi strategis antara sekutu Eropa dan di sisi lain terdapat kurangnya koordinasi antara Amerika Serikat dan Turki.

Macron mengecam ketidakmampuan NATO untuk bereaksi terhadap apa yang disebutnya serangan 'gila' Turki ke Suriah bulan lalu. Dia juga mengatakan sudah saatnya Eropa berhenti bertindak seperti sekutu junior ketika menyelesaikan perosalan Timur Tengah.

Dalam wawancaranya, ia juga mengatakan Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda 'berbalik dari NATO', terutama seperti yang ditunjukkan oleh keputusan Trump yang tiba-tiba menarik pasukan keluar dari Suriah timur laut bulan lalu. Keputusan AS tersebut diambil tanpa berkonsultasi dengan sekutu-sekutunya terlebih dahulu.

Menanggapi pernyataan Macron tersebut, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa Macron bereaksi berlebihan.

“Presiden Prancis telah menemukan kata-kata yang agak drastis untuk mengekspresikan pandangannya. Ini bukan bagaimana saya melihat kondisi kerja sama di NATO, ”katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nato, amerika serikat

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top