Tahun 2100: Ada 190 Juta Orang Tinggal di Bawah Permukaan Laut

Berjuta-juta penduduk bumi akan terkena risiko banjir akibat peningkatan ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim pada abad ini.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 04 November 2019  |  07:12 WIB
Tahun 2100: Ada 190 Juta Orang Tinggal di Bawah Permukaan Laut
Gas rumah kaca. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Berjuta-juta penduduk bumi akan terkena risiko banjir akibat peningkatan ketinggian air laut yang disebabkan perubahan iklim pada abad ini.

Demikian kesimpulan satu penelitian yang diadakan oleh Climate Central, sebuah organisasi nonpemerintah yang bermarkas di Amerika Serikat.

Menurut lembaga tersebut, daerah-daerah yang akan berada di bawah ketinggian air laut pada tahun 2100 akan dihuni oleh sekitar 190 juta orang. Sedangkan hari ini, menurut perkiraan lembaga itu, sekitar 110 juta orang tinggal di kawasan tersebut yang umumnya terlindung oleh dinding, tanggul dan berbagai benteng pantai lainnya.

Perkiraan masa depan itu berlandaskan asumsi pemanasan global yang moderat sehingga gangguan air laut diperkirakan terbatas.

Penyelidikan Climate Central yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, mengkoreksi bias dalam paket data ketinggian yang dipakai untuk mengukur seberapa jauh kawasan pedalaman yang akan tergenang akibat perubahan cuaca.

Paket data itu berasal dari misi pesawat ulang alik luar angkasa Endeavour yang menggunakan radar di tahun 2000 untuk memproduksi peta ketinggian di seluruh dunia.

Dari sini dibuat model tiga dimensi Planet Bumi yang menjadi data yang paling banyak digunakan untuk keperluan tersebut. Namun, tim dari Climate Central, Scott Kulp dan Benjamin Strauss, mengatakan data itu bias yang membuat beberapa daratan tampak lebih tinggi dari yang sebenarnya sepeti dikutip BBC.com, Senin (4/11/2019).

Hal itu terjadi karena di lokasi-lokasi tersebut terdapat hutan, dan radar Endeavour keliru membacanya sebagai permukaan tanah.

Kulp dan Strauss menggunakan perangkat lebih mutakhir berupa Lidar (pendeteksi dengan sinar laser) untuk memasukkan data ke komputer yang kemudian mengoreksi kekeliruan digital elevation model (DEM) dari data sebelumnya.

Kemudian, ketika data CoastalDEM ini digunakan bersamaan dengan statistik populasi dan perkiraan peningkatan ketinggian air laut, menjadi jelas bahwa lebih banyak orang yang akan terkena dampak di masa depan.

Data ketinggian yang baru tersebut memperlihatkan bahwa enam negara Asia (China, Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, dan Thailand), harus menghadapi ancaman banjir laut tahunan pada tahun 2050.

Di kawasan tersebut penduduk yang terdampak sekitar 237 juta orang. Jumlah tersebut kira-kira 183 juta lebih banyak daripada pengukuran berdasarkan data sebelumnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, pemanasan global

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top