Raksasa Barang Mewah LVMH Berencana Beli Tiffany & Co.

Konglomerat barang mewah asal Prancis yang terkenal dengan brand fesyen Louis Vuitton dan Givenchy, LVMH, disebut-sebut berencana membeli raksasa bisnis perhiasan Tiffany & Co.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Oktober 2019  |  08:57 WIB
Raksasa Barang Mewah LVMH Berencana Beli Tiffany & Co.
Logo Tiffany & Co terlihat di luar toko pada 5th Ave di New York, AS, 19 Maret 2019. - REUTERS/Carlo Allegri

Bisnis.com, JAKARTA – Konglomerat barang mewah asal Prancis yang terkenal dengan brand fesyen Louis Vuitton dan Givenchy, LVMH, disebut-sebut berencana membeli raksasa bisnis perhiasan Tiffany & Co.

Menurut sumber terkait, nilai pembelian yang ditawarkan oleh LVMH mencapai US$14,5 miliar atau sekitar Rp203 triliun. Jika rencana ini terwujud, kesepakatan tersebut akan memperluas akses pasar LVMH di Amerika Serikat (AS).

Mengutip informasi dari sumber yang identitasnya dirahasiakan, Bloomberg melaporkan bahwa LVMH telah melakukan penjajakan dengan perusahaan yang berbasis di New York itu melalui sebuat proposal pengambilalihan awal bulan ini.

“Pihak Tiffany saat ini tengah mengevaluasi penawaran itu dan tidak ada jaminan kesepakatan akan tercapai,” ungkap sumber terkait, dilansir dari Bloomberg (Senin, 28/10/2019).

Deborah Aitken, analis barang mewah di Bloomberg Intelligence, berpendapat melalui rencana ini Tiffany bisa membuktikan kesesuaian dengan LVMH yang masih kurang melakukan penetrasi dalam bisnis perhiasan.

“Dengan bisnis perhiasan bermerek tumbuh sekitar 6 persen per tahun, sekitar 200 basis poin lebih cepat daripada jam tangan kelas atas, membeli Tiffany dapat membantu LVMH bersaing dengan perusahaan-perusahaan macam Swiss Richemont SA, pemilik Cartier dan Van Cleef & Arpels,” terang Aitken.

Realisasi pembelian ini akan menjadi kesepakatan terbesar bagi pendiri dan Chairman LVMH Bernard Arnault, orang terkaya di Eropa. LVMH juga memiliki brand perhiasan dan jam tangan Bulgari, toko kosmetik Sephora, jam tangan Hublot dan Dom Perignon Champagne.

Bisnis LVMH juga akan semakin terdiversifikasi. Meski barang-barang mewahnya menarik banyak permintaan di China, LVMH menghadapi sejumlah risiko termasuk perang dagang negara itu dengan AS dan protes anti-pemerintah Beijing di Hong Kong.

Meski demikian, perusahaan tetap mencatat kinerja penjualan yang ciamik dengan peningkatan sebesar 19 persen atau mengalahkan estimasi analis untuk bisnis fesyen dan barang berbahan kulit pada kuartal terkini.

Sementara itu, setelah melalui periode yang sulit dengan kehilangan jejak tren konsumen dan terdampak kemerosotan dalam pariwisata di AS, performa Tiffany telah bangkit kembali di bawah kepemimpinan CEO Alessandro Bogliolo.

Bogliolo, mantan eksekutif Bulgari dan label jeans Diesel, telah menyegarkan pemasaran Tiffany. Bulan lalu ia mengatakan berencana untuk membuka lebih banyak toko di China daratan karena melemahnya nilai tukar yuan menghalangi konsumen negara tersebut untuk berbelanja di luar negeri.

“Tiffany dapat memperoleh manfaat dari luasnya pengetahuan yang dimiliki LVMH dan dapat melakukan cross-selling juga berkolaborasi dengan merek-merek mewah lainnya,” ujar Seema Shah dari Bloomberg Intelligence.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tiffany, barang mewah, louis vuitton

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top