Perang Dagang AS-China Tanpa Resolusi, Semua Pihak akan Merugi

Amerika Serikat menunjukkan sikap yang lebih agresif terhadap China mulai dari sanksi dagang hingga isu pelanggaran HAM.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  14:05 WIB
Perang Dagang AS-China Tanpa Resolusi, Semua Pihak akan Merugi
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA -- Dimulainya kembali perundingan dagang antara Amerika Serikat dan China diawali dengan headline berita sepanjang pekan yang menyimpulkan bahwa segalanya telah berubah menjadi lebih buruk.

Amerika Serikat menunjukkan sikap yang lebih agresif terhadap China mulai dari sanksi dagang hingga isu pelanggaran HAM.

Awalnya Beijing memerintahkan agar Washington tidak terlibat dalam aksi protes di Hong Kong. Akhir pekan lalu bentrokan antara para demonstran dengan polisi berakhir ricuh dan melumpuhkan pusat keuangan Asia tersebut.

Pada awal pekan lalu, Presiden AS Donald Trump bahkan mengaitkan kerusuhan di Hong Kong dengan perundingan perdagangan.

"Jika mereka [China] mengambil langkah buruk untuk meredam protes di Hong Kong, negosiasi perdagangan dengan AS akan terganggu. Hal tersebut harus dilakukan dengan baik," ujar Trump, dikutip melalui Bloomberg, Jumat (11/10/2019).

Kemudian, hanya beberapa hari sebelum negosiator China berangkat ke Washington, Departemen Perdagangan AS memberikan sanksi blacklist terhadap delapan perusahaan teknologi terkemuka asal China.

Washington menjelaskan tindakan ini dengan mengutip keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim di wilayah Xinjiang.

Satu hari kemudian, Kementerian Luar Negeri AS memberi larangan perjalanan terhadap pejabat pemerintah China yang terlibat dengan kasus di Xinjian.

Kabar ini turut diikuti dengan langkah pemerintahan Trump yang tengah membahas kemungkinan untuk membatasi aliran portofolio ke China.

The Global Times, sebuah surat kabar yang dikelola pemerintah China dan dikenal dengan nada yang lebih hawkish, mengabaikan sanksi blacklist sebagai strategi awal sebelum negosiasi perdagangan dimulai.

"Upaya Amerika untuk menambahkan opsi tawar menawar ini tidak akan mempengaruhi pendekatan China dalam perundingan dagang," tambahnya.

Kejadian sepanjang pekan ini dapat memberikan gambaran awal tentang masa depan hubungan bilateral Amerika Serikat dan China, sambil menunggu ke mana mereka akan bergerak pada putaran perundingan dagang pekan ini.

Meski demikian, kemunduran apapun dalam hubungan AS-China akan berakhir buruk bagi semua pihak.

Trump menyampaikan bahwa perundingan dagang di Washington pada Kamis (9/10/2019), berjalan baik dan dia berencana untuk menemui Wakil Perdana Menteri China Liu He pada Jumat (11/10/2019), waktu setempat.

AS dan China tampaknya bersedia bekerja untuk mencapai kesepakatan parsial, dan meninggalkan masalah yang lebih kontroversial untuk diskusi selanjutnya. Namun, Trump kembali menekankan pada Rabu (9/10/2019) bahwa dia lebih suka sebuah perjanjian lengkap.

Dalam perundingan ini, AS mendesak komitmen China untuk menindak pencurian kekayaan intelektual dan berhenti memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan rahasia komersial mereka sebagai syarat melakukan bisnis di China.

Jika perundingan ini berakhir tanpa kemajuan, AS akan menaikkan tarif sekitar US$250 miliar terhadap impor asal China menjadi 30% pada 15 Oktober.

Sementara itu, tambahan pungutan bea terhadap impor China senilai US$160 miliar mulai berlaku pada 15 Desember.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top