Whistleblower Kedua Muncul Dalam Penyelidikan Pemakzulan Trump

Pembocor pertama menyebutkan Trump diduga menggunakan kekuasannya di Gedung Putih untuk meminta campur tangan dari negara asing dalam pemilihan presiden AS 2020 dengan meminta Ukraina untuk menyelidiki saingan utamanya, Joe Biden.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  12:24 WIB
Whistleblower Kedua Muncul Dalam Penyelidikan Pemakzulan Trump
Presiden AS Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Pembocor rahasia atau whistleblower kedua muncul dalam penyelidikan pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal ini diungkapkan oleh Mark Zaid yang juga merupakan pengacara dari whistleblower pertama.

Dikutip dari Reuters, Senin (7/10/2019), Zaid mengatakan bahwa whistleblower kedua itu juga merupakan seorang pejabat intelijen yang memiliki pengetahuan langsung tentang tuduhan terkait dengan panggilan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 25 Juli lalu.

Pembocor pertama menyebutkan Trump diduga menggunakan kekuasannya di Gedung Putih untuk meminta campur tangan dari negara asing dalam pemilihan presiden AS 2020 dengan meminta Ukraina untuk menyelidiki saingan utamanya, Joe Biden. Pengaduan sumber pertama itu disampaikan kepada inspektur jenderal komunitas intelijen pada 12 Agustus lalu.

"Saya dapat mengonfirmasi bahwa perusahaan saya dan tim saya mewakili banyak whistleblower sehubungan dengan pelaporan pada 12 Agustus 2019 kepada Inspektur Jenderal Komunitas Intelijen,” ujar Andrew Bakaj, pengacara kedua, melalui akun Twitternya. Namun, Bakaj menolak memberikan keterangan lebih lanjut.

Whistleblower kedua, kata Mark Zaid, telah berbicara dengan inspektur jenderal sebagai bagian dari pemeriksaan awal pengaduan pelapor. Wawancara dengan inspektur jenderal memberikan perlindungan terhadap serangan balasan.

Adapun panggilan telepon Trump dengan presiden Ukraina mendorong Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nancy Pelosi untuk meluncurkan penyelidikan pemakzulan pada 24 September. Upaya Trump untuk meminta campur tangan asing dianggap membahayakan integritas pemilu AS dan mengancam keamanan nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Donald Trump

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top