Siswa Ditembak, Demonstran Hong Kong Terus Mengamuk

Para aktivis pro-demokrasi mengamuk di distrik-distrik kota hingga larut malam, melemparkan bom bensin, menyulut api, memblokir jalan, serta merusak beberapa toko dan stasiun metro ketika pihak berwajib menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  10:07 WIB
Siswa Ditembak, Demonstran Hong Kong Terus Mengamuk
Polisi anti huru-hara berjaga-jaga saat demonstrasi pada Hari Nasional China, di Mong Kok, Hong Kong, Cina 1 Oktober 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Gerombolan demonstran anti-pemerintah kembali bentrok dengan polisi Hong Kong, Kamis dini hari (3/10/2019) waktu setempat, melampiaskan kemarahan mereka atas insiden penembakan terhadap seorang remaja awal pekan ini.

Para aktivis pro-demokrasi mengamuk di distrik-distrik kota hingga larut malam, melemparkan bom bensin, menyulut api, memblokir jalan, serta merusak beberapa toko dan stasiun metro ketika pihak berwajib menembakkan gas air mata untuk membubarkan mereka.

“Di mana pun ada protes saya akan datang. Saya keluar malam ini karena alasan sederhana. Anda tidak boleh menembak seorang remaja dari jarak dekat. Protes ini akan terus berlanjut dan kami tidak akan menyerah,” ujar Alex Chan, seorang desainer interior, seperti dilansir dari Reuters.

Ribuan massa turun ke jalan pada Rabu (2/10) untuk mengecam penembakan siswa sekolah menengah berusia 18 tahun oleh seorang polisi. Pihak kepolisian Hong Kong menegaskan bahwa itu merupakan tindakan bela diri karena nyawa si petugas terancam serius.

Siswa tersebut ditembak dari jarak dekat ketika tengah melawan si petugas dengan pipa logam dalam aksi protes pada Selasa (1/10).

Saat itu, para demonstran melemparkan bom bensin kepada para polisi yang meresponsnya dengan gas air mata, peluru karet, dan meriam air.

Operator kereta api MTR Corp menutup stasiunnya di sejumlah distrik termasuk Po Lam, Hang Hau, dan Tseung Kwan O, tepat sebelum tengah malam pada Rabu ketika kekerasan tampak kembali memanas.

Pada Kamis (3/1), polisi Hong Kong mengatakan bahwa tindakan para pengunjuk rasa “secara serius merusak ketertiban umum serta menjadi ancaman bagi keselamatan pribadi petugas polisi dan anggota masyarakat”.

Bekas koloni Inggris itu telah diguncang oleh protes selama berbulan-bulan untuk menentang rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi. Meski RUU ini kemudian ditarik, kegarangan demonstran telah berevolusi menjadi seruan untuk demokrasi, selain beberapa tuntutan lainnya.

Oposisi terhadap pemerintah yang didukung Beijing telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis politik terbesarnya dalam beberapa dasawarsa. Kondisi ini menciptakan tantangan rakyat yang paling buruk bagi Presiden Xi Jinping sejak ia berkuasa.

Para pengunjuk rasa juga marah tentang apa yang mereka lihat sebagai campur tangan Beijing mengenai segala urusan di dalam Hong Kong, terlepas dari adanya formula "satu negara, dua sistem".

Sementara itu, pemerintah China menampik tuduhan-tuduhan itu serta menuding pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, telah menggerakkan sentimen anti-China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top